Mitos
Asal Usul Nyahuq (Pakaatn Nyahuq)
Di suatu desa hiduplah Datu Taman
Apow dan isterinya, Ave Tempere.
Pasangan suami isteri tersebut mempunyai anak 7 orang. Ketika keduanya pegi ke
ladang untuk bekerja, maka ke 7 orang anak tersebut diasuh oleh Kakek Tua
Gayaatn dan nenek Tua Gayaatn. Sebelum pergi ke ladang, keduanya berpesan
kepada kedua pengasuh anak mereka tersebut agar tidak memasak beras ketan hitam
dan memotong ayam hitam, walaupun anak-anak tersebut menangis terus menerus
minta dibuatkan makanan tersebut. Setelah 2 sampai 3 hari anak-anak tersebut
menangis terus menerus, maka nenek Tua Gayaatn menyuruh kakek Tua Gayaatn
memasak ketan hitam dalam bambu dan memotong dan memanggang ayam hitam. Setelah
makanan tersebut masak mereka memberi anak-anak tersebut makan. Segera setelah
makan ketaqn hitam dan panggang ayam hitam tersebut, maka timbullah bulu-bulu
pada seluruh tubuh tubuh anak-anak tersebut. Akhirnya semua anak-anak tersebut
berubah menjadi burung dan terbang ke
atas pohon kelapa,pinang dan pohon lainnya. Beberapa saat kemudian Pada suatu
sore menjelang malam, Datu Taman Apow dan isterinya Ave Tempere pulang ke
rumah, mereka mendengar dan melihat rumah menjadi sepi, tidak ada tangisan
ataupun tidak terlihat anak-anak mereka bermain. Pada mulanya mereka mengira
anak-anak lagi tidur. Akan tetapi setelah mereka masuk rumah dan tidak melihat
anak-anak mereka lalu bertanya kemana anak-anak tersebut pergi. Jawab Kakek Tua
Gayaatn dan nenek Tua Gayaatn:”.Karena kalian pergi sangat lama, mereka
menangis terus menerus sehingga kami terpaksa memasak ketan hitam dan panggang
ayam hitam dan memberi mereka makan. Setelah makan ketan hitam dan panggang
ayam hitam, mereka menjelma menjadi burung-burung seperti yang kalian lihat di
atas pohon-pohon itu. Maka bangkitlah amarah keduanya terhadap kakek Tua
Gayaatn dan nenek Tua Gayaatn. Mereka lalu memukul keduanya, hingga akhirnya
Kakek Tua Gayaatn menjelma jadi burung hantu besar (buak) dan Nenek Tua Gayaatn
jadi burung hantu kecil (kaor).
Beberapa bulan setelah kejadian
tersebut, Ave Tempere mengandung dan setelah sampai bulan untuk melahirkan,
maka lahirlah seorang anak laki-laki. Mereka kemudian memberi nama anak
tersebut Apaakng Peningir. Mereka memelihara anak semata wayang tersebut. Anak
tersebut tumbuh sehat dari bayi sampai menjadi remaja dan dewasa. Setelah
dewasa dia mampu berburu dan membuat ladang dengan baik. Suatu hari ketika
Apaakng peningir pulang dari ladang, di tengah jalan terdengar suara
burung-burung juruh dan mentit dan burung lainnya. Apakng peninggir menjadi
marah dan mengomel. Dengan angkuhnya dia berkata, bahwa burung-burung tersebut
berbunyi memekakkan telinganya. Dia mampu membuat ladang, berburu, melakukan
upacara pesta nuak tanpa butuh bantuan mereka.
Mendengar omelan Apakng peningir,
burung-burung tersebut yang tidak lain adalah kakak-kakak Apaakng Peningir yang
telah menjelma menjadi burung nyahuq menjaqdi terkejut dan marah. Mereka lalu
berkata sesama mereka:” Apaakng peningir terlalu jahat dan angkuh terhdap kita,
kita saudara-saudaranya meminta makan, dia malah mengomel dan mengatakan
kemampuannya tidak tergantung kepada kita. Sebaiknya kita bunuh dia dengan
membuatkan dia peti mati (lungun).” Mereka lalu pergi ke lembah layap langit,
lalu menebang ulin tiga depa kelilingnya lalu mulai membuat peti mati (lungun).
Pada saat mereka mulai membuat lungun, maka Apaakng peningir menjadi jatuh
sakit. Tubuhnya lemah lunglai dan mukanya pucat, selalu mengantuk setiap saat.
Kata Apaakng peningri dalam hatinya:”Aku mau jalan ke dalam hutan untuk mengadu
peruntungan, siapa tahu dengan berjalan ke hutan aku bisa sembuh.” Maka dia
berjalan ke pinggir ladang lalu masuk hutan dan terus berjalan dari hutan bekas
ladang muda sampai hutan bekas ladang tua dan terus berjalan sampai ke rimba
belantara yang jauh dari manusia. Akhirnya Apaakng peningir sampai di lembah
Layap Langit. Sesampainya di sana terdengar di kejauhan bunyi orang sedang
membuat sesuatu. Maka dia menghampiri arah suara tersebut. Setelah dekat
dilihatnya ketujuh orang laki-laki sedang membuat peti mati (lungun) dari kayu
ulin. Lalu Apaakng Peningir bertanya: “ Untuk siapa kalian membuat peti mati
(lungun) ini?” Jawab mereka :” Kami membuat peti mati (lungun) untuk Apaakng
Peningir.” Kata Apaakng peningir:” Apaakng Peningir saat ini sehat walafiat.
Dia hidup berkecukupan, mempunyai ladang yang luas, padi, tanaman palawija dan
harta yang melimpah ruah. Dia mengadakan pesta pora tiap hari. Mengapa kalian
mebuat peti mati (lungun) buat dia?”
Jawab mereka:”Dia berbuat jahat kepada kami saudara-saudaranya. Ketika
kami minta makan, maka dengan angkuh dia mengomeli kami, dan dengan angkuhnya
dia mengatakan bahwa dia mampu berbuat segala sesuatu dan hidup makmur
sejahtera tanpa bantuan kami. Kicauan kami hanya memekakkan telinganya saja.
Maka kehidupannya menjadi makmur sejahtera dan semua keinginannya tercapai
adalah karena kami selalu menyertai dia. Oleh sebab itu kami membuat peri mati
ini untuk membunuhnya. Bila peti mati ini selesai, maka dia akan mati.” Kata
Apaakng peningir:” Bagaimana seandainya dia memberi makan kepada kalian?” Jawab
mereka:” Kalau dia memberi kami makan, maka pekerjaan ini dibatalkan.” Apaakng
Peningir kemudian pamit pulang dan sesampainya di rumah, dia langsung
memberitahu kepada orang tuanya hal ihwal pertemuannya dengan
saudara-saudaranya yang sedang membuat peti mati untuk dia, karena mereka marah
kepada dia akibat mereka tidak diberi makan. Mereka lalu mempersiapkan beras
padi dan beras ketan beserta ayam dan babi serta perlengkapan lainnya untuk
melaksanakan upacara memberi makan nyahuq (pakaatn nyahuq). Apaakng peningir
lalu menjemput Kakek Singkaar Olo untuk melaksanakan upacara memberi makan
nyahuq (pakaatn nyahuq). Sesajen dibuat dan segala macam roh nyahuq dipanggil
oleh Kakek Singkaar Olo dan diberi makan. Setelah selesai, maka mereka lalu
membayar upah Kakek Singkaar Olo dan mengantarnya pulang. Pada keesokan harinya
Apaakng Peningir pergi ke ladang, lalu dia berjalan ke hutan menuju lembah
Layap Langit untuk melihat kelanjutan dari pekerjaan saudara-saudarnya
tersebut. Sesampainya di sana dilihatnya orang-orang tersebut tidak melanjutkan
pekerjaannya. Mereka duduk-duduk saja di dekat kayu untuk peti mati tersebut.
Lalu Apaakng Peningir menyapa mereka:” Mengapa kalian malah istirahat, tidak
meneruskan pekerjaan kalian membuat peti mati (lungun). Kalau begitu, maka
pekerjaan kalian tidak akan selesai.” Jawab mereka:” memang tidak akan kami
selesaikan, karena Apaakng Peningir secara tak terduga memanggil dan memberi
kami makan sampai kenyang.” Lalu kata Apaakng peningir:” Akulah Apaakng Peningir,
adik kalian.” Mereka lalu membelah peti mati tersebut. Kata para nyahuq
tersebut:” Begini Apaakng Peningir setiap kamu ada kegiatan penting, maka
hendaklah memberi makan kami dulu, maka kami akan mengiringi dan menjaga kamu
kemanapn kamu pergi dan apapun kegiatan kamu.” Maka Apaakng Peningir lalu
pulang dan setiap ada kegiatan penting, dia selalu terlebih dahulu memberi
makan nyahuq (pakaatn nyahuq), agar mereka selalu mengiring, memberkati dan
melindungi dia.
Itulah riwayat dari segala macam
nyahuq, oleh sebab itu pada hari ini kami memberi makan kalian para nyahuq agar
kalian mengiringi, memberkati dan melindungi kami. Sore nanti saya akan memberi
kalian tuak kapul yang telah disimpan lama dan makanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar