Selasa, 08 Oktober 2013

Mitos Asal Usul Api (Pakaatn Nyahuq)



Saya menceriterakan Raja Kilip, dipelihara oleh Ibu Dara dan Datu dari bayi, sampai bisa telungkup, kemudian bisa duduk, merangkak. Kilip makin besar bisa turun ke tanah berpegangan pada pegangan tangga, sampai anak-anak dan bisa bermain dengan sumpitan bambu belajar menyumpit lipas, cecak, laba-laba. Kemudian setelah semakin besar dia turun ke tanah berburu belalang, burung-burung kecil, kemudian berburu burung-burung yang lebih besar seperti punai, pergam, berbagai jenis enggang. Kemudian semakin besar dia mampu berburu monyet, lutung, pelanduk, kijang, babi dan rusa.
Kemudian setelah dewasa dia bisa membuat ladang dan membangun rumah. Tiba-tiba kakek Datu sakit lalu meninggal dunia. Kilip membuat peti mati (lungun) dan melaksanakan upacara kwangkai (kematian), mengorbankan ayam, babi, kambing, kerbau untuk “parapm api” (memadamkan api). Setelah selesai upacara Kilip mengantar jenazah Datu ke Lembo Beremauq Tua (Tenukng Beremauq Tuhaaq). Kemudian Kilip memadamkan semua api yang dimilikinya, sehingga mereka tidak bisa memasak. Jadi Kilip dengan Nenek Dara makan nasi yang sudah lama sampai berjamur dan terasa tidak enak. Mereka mengalami paceklik, sehingga kekurangan makanan.
Kilip berjalan ke hutan dan melihat jalan binatang yang cukup terang menuju ke muka lubang. Lalu Kilip memasang jerat. Pagi berikutnya dia mendatangi jerat tersebut dan melihat seekor tikus besar (Limaar Jawa) terikat di jerat.
Kata Kilip :” Pucuk dicinta ulam tiba, kamu jadi lauk saya, say bunuh kamu”. Kata tikus :” Jangan bunuh sembarang bunuh, saya ada kabar baik buat kamu”. Kata Kilip:” Kabar baik apa itu”.
Kata tikus:”Saya kasihan kamu tidak memiliki api, saya bisa menolong kamu mencari api. Begini caranya, kamu bikin 8 obor dari kulit kayu dan 8 obor dari damar”.
Kilip mengikuti saran tikus untuk membuat 8 obor dari kulit kayu dan 8 obor dari damar dan memberikannya kepada tikus. Lalu tikus berangkat membawa burung srigunting, gagak, landak, babi, kijang, rusa, beruang, macan dahan dan burung elang.
Kata srigunting :” Saya duluan mencoba untuk mendapatkan api”. Srigunting mencoba menyulutkan obor, terbang meliuk-liukn kesana kemari, dan karena panasnya, maka bulu srigunting menjadi hitam dan bulu ekor hanya tersisa sedikit yang tidak terbakar, namun tidak berhasil mendapatkan api. Kemudian dia terbang kembali ke pondok, melaporkan bahwa dia tidak berhasil mendapatkan api.
Kata sejenis landak kecil (pegeekng): “Coba saya yang ke sana, saya pasti dapat karena saya cepat”. Dia lari ke sana kemari di pinggir Api Apiq (Api Abadi), sampai akhirnya gigi menjadi kuning dan bulu menjadi hitam, namun gagal mendapat api. Lalu dia kembali ke pondok, dan melaporkan kegagalannya.
Kata landak : “Sekarang giliran saya, saya pasti dapat karena badan saya lebih besar dan lari saya lebih cepat”.  Maka landak pergi ke pinggir api apiiq berusaha mendapatkan api. Di berlari bolak-balik, ke sana kemari berusaha mendapatkan api sampai akhirnya giginya menjadi kuning dan sebagian bulunya menjadi hitam kena panasnya api, namun dia gagal mendapatkan api. Dia kembali ke pondok dan melapor kegagalannya pada tikus.
Setelah itu kata beruang:” Saya ke sana untuk mendapatkan api, badan saya lebih besar, bulu saya tebal, dan lari saya cepat, jadi saya pasti dapat mengambil api tersebut”. Maka beruang mendatangi ke pinggir tempat api apiq berada. Dia berlari hilir mudik, kesana kemari sambil, berteriak sampai akhirnya bulunya semua hitam dan taring serta giginya mejadi kuning kena panasnya api, namun upayanya untuk mendapatkan api gagal. Ahirnya dia kembali ke pondok untuk melaporkan kegagalannya mendapatkan api kepada tikus.
Kemudian macan dahan berkata :” Sekarang giliran saya, saya mampu berlari cepat dan dapat melompat tinggi, jadi saya pasti berhasil mendapatkan api”. Maka berangkatlah si Macan Dahan ke lokasi api abadi dan setelah sampai di dekat dia mencoba menyalakan obor, dengan melompat-lompat serta berlari ke sana kemari sambil mengaum dan karena panasnya api akhirnya bulunya jadi belang-belang dan gigi geliginya menjadi kuning. Namun usahanya untuk mendapatkan api gagal total. Dia kembali ke pondok untuk melaporkan kegagalannya kepada tikus.
Kemudian kata Rusa:”Sekarang giliran saya, saya pasti dapat, karena saya dpat berlari dan melompat dengan cepat”. Lalu rusa mendatangi tempat api apiq yang bergemuruh. Dia mengambil ancang-ancang untuk berlari dan melompat, lalu dia berlari kesana kemari dan melompat-lompat, namun gagal mendapatkan api dan karena panasnya api, maka giginya sampai kuning dan bulu sampai coklat kehitaman. Akhirnya karena sudah habil akal untuk mendapatkan api dia pulang ke pondok dan melaporkan kegagalannya kepada tikus.
Kata tikus :” Payah kamu semua, tidak berhasil mendapatkan api, kita akan mati dibunuh oleh Raja Kilip, bila kita tidak berhasil mendapatkan api”. Kemudian tikus mencoba mendatangi lokasi api tersebut, dan dia berlari ke sana kemari, hilir mudik berusaha menyalakan obor, namun gagal dan akhirnya bulu ekornya habis terbakar, serta bulu badannya menjadi hitam karena panasnya api. Dia kembali kepondok dengan wajah lesu.
Sekarang tinggal burung elang sendiri yang belum mencoba mendapatkan api. Kata burun g elang :” Coba kalian ikat obor di kaki saya, saya akan mencoba, mudah-mudahan saya berhasil”. Setelah obor diikat dikakinya, maka burung elang terbang tinggi sampai ke awan-awan dan sampai tidak kelihatan oleh mata mereka yang berada di bawah. Setelah lama berselang akhirnya mereka melihat ada titik kecil dari tempat yang sangat tinggi menurun dan semakin dekat dan rendah kelihatan burung elang dengan obor yang bernyala di kakinya. Akhirnya burung elang turun di pondok dan menyerahkan obor kepada tikus. Dia berhasil mendapatkan api, namun bulunya smpai menjadi lurik-lurk kena panasnya api abadi.
Kata tikus:” Saya yang membawa obor ini  pulang”. Lalu dia menyeret obor tersebut. Setelah habis sebatang obor, maka disambung dengan sebatang obor yang lain, sampai akhirnya tinggal sebatang. Karena tinggal sebatang, dan khawatri akan habis, maka tikus menyulut obor ke hamparan batu di hilir pemandian, menyulut keliling pohon aren, menyulut ke ranting meranti dan kesumba yang kering.
Setelah mereka sampai di Lamin BeremauqSiwo Ore, Raja Kilip bertanya :”Mana api? Kamu berbohong, tikus, saya pentung kalian semua”. Jawab tikus:” Jangan pentung sembarang pentung, saya belum bercerita”. Setelah duduk, maka tikus bercerita:” Karena obor mau habis, maka sebelum habis saya sulut ke hamparan batu di hilir pemandian, kemudian keliling batang aren, ke cabang dan ranting meranti dan kesumba yang kering. Semua api ada di situ”.
Kata Kilip :” Kumpul kalian semua dan dengar baik-baik. Saya akan memberi upah kepada masing-masing kalian karena telah berhasil mendapatkan api. Upah kamu tikus, kamu mengerat lumbung padi Aji dan makan padinya”. Kemudian kamu burung Gagak upahmu adalah memakan kepompong yang ada di daun pisang, Sedang kamu landak dan landak kecil makan singkong Aji sebagai upahmu. Selanjutna kamu macan dahan diberi hak untuk memakan babi peliharaan Aji. Rusa, kamu mendapat upah memakan singkong dan tanaman padi Aji sedang kamu beruang makan damar pohon dan madu.
Jadi itulah asal usul api yang dipakai pada hari ini untuk memasak makanan untuk upacara pakatn nyahuq, sudah selesai diceritakan seperti apa adanya tidak melebihi cerita sebelumnya, takut tidak diketahui asal usulnya. Kami tidak memakai api sembarangan pada hari ini, tanpa ada asal usulnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar