Saya menceriterakan Raja Kilip, dipelihara
oleh Ibu Dara dan Datu dari bayi, sampai bisa telungkup, kemudian bisa duduk,
merangkak. Kilip makin besar bisa turun ke tanah berpegangan pada pegangan
tangga, sampai anak-anak dan bisa bermain dengan sumpitan bambu belajar
menyumpit lipas, cecak, laba-laba. Kemudian setelah semakin besar dia turun ke
tanah berburu belalang, burung-burung kecil, kemudian berburu burung-burung
yang lebih besar seperti punai, pergam, berbagai jenis enggang. Kemudian
semakin besar dia mampu berburu monyet, lutung, pelanduk, kijang, babi dan rusa.
Kemudian setelah dewasa dia bisa membuat
ladang dan membangun rumah. Tiba-tiba kakek Datu sakit lalu meninggal dunia.
Kilip membuat peti mati (lungun) dan melaksanakan upacara kwangkai (kematian),
mengorbankan ayam, babi, kambing, kerbau untuk “parapm api” (memadamkan api).
Setelah selesai upacara Kilip mengantar jenazah Datu ke Lembo Beremauq Tua
(Tenukng Beremauq Tuhaaq). Kemudian Kilip memadamkan semua api yang
dimilikinya, sehingga mereka tidak bisa memasak. Jadi Kilip dengan Nenek Dara
makan nasi yang sudah lama sampai berjamur dan terasa tidak enak. Mereka mengalami paceklik, sehingga kekurangan makanan.
Kilip berjalan ke hutan dan melihat jalan
binatang yang cukup terang menuju ke muka lubang. Lalu Kilip memasang jerat.
Pagi berikutnya dia mendatangi jerat tersebut dan melihat seekor tikus besar
(Limaar Jawa) terikat di jerat.
Kata Kilip :” Pucuk dicinta ulam tiba, kamu
jadi lauk saya, say bunuh kamu”. Kata tikus :” Jangan bunuh sembarang bunuh,
saya ada kabar baik buat kamu”. Kata Kilip:” Kabar baik apa itu”.
Kata tikus:”Saya kasihan kamu tidak
memiliki api, saya bisa menolong kamu mencari api. Begini caranya, kamu bikin 8
obor dari kulit kayu dan 8 obor dari damar”.
Kilip mengikuti saran tikus untuk membuat 8
obor dari kulit kayu dan 8 obor dari damar dan memberikannya kepada tikus. Lalu
tikus berangkat membawa burung srigunting, gagak, landak, babi, kijang, rusa,
beruang, macan dahan dan burung elang.
Kata srigunting :” Saya duluan mencoba
untuk mendapatkan api”. Srigunting mencoba menyulutkan obor, terbang
meliuk-liukn kesana kemari, dan karena panasnya, maka bulu srigunting menjadi
hitam dan bulu ekor hanya tersisa sedikit yang tidak terbakar, namun tidak
berhasil mendapatkan api. Kemudian dia terbang kembali ke pondok, melaporkan
bahwa dia tidak berhasil mendapatkan api.
Kata sejenis landak kecil (pegeekng): “Coba
saya yang ke sana, saya pasti dapat karena saya cepat”. Dia lari ke sana kemari
di pinggir Api Apiq (Api Abadi), sampai akhirnya gigi menjadi kuning dan bulu
menjadi hitam, namun gagal mendapat api. Lalu dia kembali ke pondok, dan
melaporkan kegagalannya.
Kata landak : “Sekarang giliran saya, saya
pasti dapat karena badan saya lebih besar dan lari saya lebih cepat”. Maka landak pergi ke pinggir api apiiq
berusaha mendapatkan api. Di berlari bolak-balik, ke sana kemari berusaha
mendapatkan api sampai akhirnya giginya menjadi kuning dan sebagian bulunya
menjadi hitam kena panasnya api, namun dia gagal mendapatkan api. Dia kembali
ke pondok dan melapor kegagalannya pada tikus.
Setelah itu kata beruang:” Saya ke sana
untuk mendapatkan api, badan saya lebih besar, bulu saya tebal, dan lari saya
cepat, jadi saya pasti dapat mengambil api tersebut”. Maka beruang mendatangi
ke pinggir tempat api apiq berada. Dia berlari hilir mudik, kesana kemari
sambil, berteriak sampai akhirnya bulunya semua hitam dan taring serta giginya
mejadi kuning kena panasnya api, namun upayanya untuk mendapatkan api gagal.
Ahirnya dia kembali ke pondok untuk melaporkan kegagalannya mendapatkan api
kepada tikus.
Kemudian macan dahan berkata :” Sekarang
giliran saya, saya mampu berlari cepat dan dapat melompat tinggi, jadi saya
pasti berhasil mendapatkan api”. Maka berangkatlah si Macan Dahan ke lokasi api
abadi dan setelah sampai di dekat dia mencoba menyalakan obor, dengan
melompat-lompat serta berlari ke sana kemari sambil mengaum dan karena panasnya
api akhirnya bulunya jadi belang-belang dan gigi geliginya menjadi kuning.
Namun usahanya untuk mendapatkan api gagal total. Dia kembali ke pondok untuk
melaporkan kegagalannya kepada tikus.
Kemudian kata Rusa:”Sekarang giliran saya,
saya pasti dapat, karena saya dpat berlari dan melompat dengan cepat”. Lalu
rusa mendatangi tempat api apiq yang bergemuruh. Dia mengambil ancang-ancang
untuk berlari dan melompat, lalu dia berlari kesana kemari dan melompat-lompat,
namun gagal mendapatkan api dan karena panasnya api, maka giginya sampai kuning
dan bulu sampai coklat kehitaman. Akhirnya karena sudah habil akal untuk
mendapatkan api dia pulang ke pondok dan melaporkan kegagalannya kepada tikus.
Kata tikus :” Payah kamu semua, tidak
berhasil mendapatkan api, kita akan mati dibunuh oleh Raja Kilip, bila kita
tidak berhasil mendapatkan api”. Kemudian tikus mencoba mendatangi lokasi api
tersebut, dan dia berlari ke sana kemari, hilir mudik berusaha menyalakan obor,
namun gagal dan akhirnya bulu ekornya habis terbakar, serta bulu badannya
menjadi hitam karena panasnya api. Dia kembali kepondok dengan wajah lesu.
Sekarang tinggal burung elang sendiri yang
belum mencoba mendapatkan api. Kata burun g elang :” Coba kalian ikat obor di
kaki saya, saya akan mencoba, mudah-mudahan saya berhasil”. Setelah obor diikat
dikakinya, maka burung elang terbang tinggi sampai ke awan-awan dan sampai
tidak kelihatan oleh mata mereka yang berada di bawah. Setelah lama berselang
akhirnya mereka melihat ada titik kecil dari tempat yang sangat tinggi menurun
dan semakin dekat dan rendah kelihatan burung elang dengan obor yang bernyala
di kakinya. Akhirnya burung elang turun di pondok dan menyerahkan obor kepada
tikus. Dia berhasil mendapatkan api, namun bulunya smpai menjadi lurik-lurk
kena panasnya api abadi.
Kata tikus:” Saya yang membawa obor
ini pulang”. Lalu dia menyeret obor
tersebut. Setelah habis sebatang obor, maka disambung dengan sebatang obor yang
lain, sampai akhirnya tinggal sebatang. Karena tinggal sebatang, dan khawatri
akan habis, maka tikus menyulut obor ke hamparan batu di hilir pemandian,
menyulut keliling pohon aren, menyulut ke ranting meranti dan kesumba yang
kering.
Setelah mereka sampai di Lamin BeremauqSiwo
Ore, Raja Kilip bertanya :”Mana api? Kamu berbohong, tikus, saya pentung kalian
semua”. Jawab tikus:” Jangan pentung sembarang pentung, saya belum bercerita”.
Setelah duduk, maka tikus bercerita:” Karena obor mau habis, maka sebelum habis
saya sulut ke hamparan batu di hilir pemandian, kemudian keliling batang aren,
ke cabang dan ranting meranti dan kesumba yang kering. Semua api ada di situ”.
Kata Kilip :” Kumpul kalian semua dan
dengar baik-baik. Saya akan memberi upah
kepada masing-masing kalian karena telah berhasil mendapatkan api. Upah kamu
tikus, kamu mengerat lumbung padi Aji dan makan padinya”. Kemudian kamu burung
Gagak upahmu adalah memakan kepompong yang ada di daun pisang, Sedang kamu
landak dan landak kecil makan singkong Aji sebagai upahmu. Selanjutna kamu
macan dahan diberi hak untuk memakan babi peliharaan Aji. Rusa, kamu mendapat
upah memakan singkong dan tanaman padi Aji sedang kamu beruang makan damar
pohon dan madu.
Jadi itulah asal usul api yang dipakai pada
hari ini untuk memasak makanan untuk upacara pakatn nyahuq, sudah selesai
diceritakan seperti apa adanya tidak melebihi cerita sebelumnya, takut tidak
diketahui asal usulnya. Kami tidak memakai api sembarangan pada hari ini, tanpa ada asal usulnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar