Saya meriwayatkan pula Raja
Kilip, yang tinggal di daerah Renayas, daerah tanah tandus tidak ada
tumbuh-tumbuhan. Suati hari timbullah pemikirannya untuk pergi mencari bibit kayu ke wilayah dunia atas
langit. Raja Kilip berjalan membawa satu tabung pasak. Setelah berjalan sehari
penuh, pada saat matahari terbenam sampailah dia di bawah sebatang pohon besar
bernama putakng kayutn tangiiq. Setelah subuh terdengar suara kokok burung
raksasa di dahan besar paling bawah. Kokok tersebut berbunyi:” Koko leaq leo,
kalau hari sudah pagi, saya akan terbang bertamu ke Dusutn Tana Tamui.” Kemudian
terdengar kokok burung raksasa pada dahan yang lebih tinggi sebagai
berikut:”Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang bertamu ke
negeri Cina pembuat garam.” Selanjutnya pada dahan berikutnya terdengar kokok
sebagai berikut:” Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang
menuju Sanikng Bentiatn, Rabukng Rasaau Koakng Ketapm, Jonyokng Ariq Koakng
Jangaang.” Kemudian berkokoklah burung raksasa yang terbesar di puncak pohon
sebagai berikut:”Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya aka n terbang ke
Lopiq Liputn Jalaq Tunaq, pergi menerkam kerbau lading emas (Kerewau ladikng
bulau), peliharaan Tuan Taruntaaq.” Kilip lalu berseru:” Saya ikut kakek.”
Jawab burung raksasa tersebut: “Ya boleh. Engkau memasang pasak di pohon ini
untuk naik ke atas, dan buat palang tempat duduk di taji saya.” Raja Kilip lalu
menanam pasak di batang pohon putakng kayun tangiq lalu memanjat. Sesampai di
atas, Raja Kilip membuat palang untuk duduk lalu setelah selesai, maka dia
mengikat badannya dengan tali dari pohon terap di kaki raksasa tersebut.
Raksasa kemudian terbang dengan suara gemuruh dan setelah sekian lama terbang
akhirnya masuk kepintu langit lalu terjun di simpang Delapan. Di sana raksasa
meninggalkan Raja Kilip dan berjanji delapan hari kemudian akan bertemu di
tempat yang sama untuk pulang. Kemudian Raja Kilip berjalan dari Simpang
Delapan dan setelah berjalan sekian lama, sampailah dia di pancuran pemandian.
Kilip lalu tinggal di pancuran pemandian. Seseorang pergi mandi ke pancuran dan
melihat kilip lalu menyapa:”Mengapa engkau tinggal di pancuran, silahkan terus
naik ke lamin.” Kata Raja Kilip Dalam hati:”Oh, ini namanya pancuran pemandian,
baru saya tahu.” Kemudian Raja Kilip naik dan tinggal di tempat pegangan
(serntenaan) di tengah jalan menuju lamin. Datanglah seorang gadis pergi mandi,
lalu menyapa:”Mengapa engkau tinggal di tengah jalan di tempat pegangan,
silahkan terus naik ke lamin.” Kata Kilip dalam hati:” Oh, ini yang namanya
pegangan (serentenan), baru saya tahu.”
Kemudian Raja Kilip naik lagi dan
tinggal di ujung serentenan. Lalu datanglah seorang anak gadis yang lain pergi
mandi dan menyapa :” Mengapa engkau tinggal diujung pegangan (serentenan),
silahkan terus naik ke lamin.” Kata Raja Kilip dalam hati:” Oh, ini yang
namanya ujung pegangan (serentenan).” Kemudian Raja Kilip berjalan mendaki
sampai ke lamin lalu duduk di pinggir kandang babi. Ketika seorang gadis pergi
memberi makan babi, maka dilihatnya Raja Kilip duduk lalu dian menyapa:”Mengapa
engkau duduk dipinggir kandang babi, silahkan terus naik ke lamin.” Kata Raja
Kilip dalam hati:” Oh, benda ini namanya kandang babi, baru sekarang saya
tahu.” Kemudian dia pindah ke pangkal
tiang di bawah tempat ayam bertelur (bowoot). Datanglah seorang perempuan tua
pergi mengurung ayam, lalu menyapa Raja Kilip:” Mengapa engkau tinggal di
pangkal tiang dan di bawah tempat ayam bertelur, di situ banyak kutu ayam,
silahkan naik ke lamin.” Kata Kilip dalam hati:” Oh, baru tahu saya kalau benda
tersebut namanya tiang (ori) dan tempat ayam bertelur (bowoot).” Kemudian Raja
Kilip beranjak dan tinggal di halaman lamin, maka datanglah anak-anak mau
bermain lalu menyapa:” Mengapa engkau tinggal di halaman lamin, nanti digigit
nyamuk dan agas, silahkan naik ke lamin.”
“Oh, baru tahu saya ini yang bernama halaman,” kata Raja Kilip dalam
hati. Lalu dia naik tangga lamin dan tinggal di pelataran. Lalu orang lewat dan
menyapa:” Mengapa Engkau tinggal di pelataran, silahkan terus masuk ke dalam
lamin.” “Oh, ini namanya pelataran (ketetalaaq), “ kata Raja Kilip dalam hati.
Raja Kilip kemudian masuk ke dalam ruangan lamin, lalu disambut oleh Nayuq Bentaraq Tuhaaq,
dipersilahkan duduk di atas tikar besar (bahaau), mereka lalu menyirih.
Kemudian tuan rumah menghidangkan makanan untuk Raja Kilip. Setelah makan, maka
Raja Kilip mulai bercerita mkasud dan tujuan kedatangannya kepada nayuq
Bentaraq Tuhaaq. Maksud dan tujuannya ke dunia atas langit dan bertemu Nayuq
Bentaraq Tuhaaq kemudian menyuruh membuat delapan buah keranjang untuk tempat
segala macam biji-bijan tumbuhan yang ada di negeri atas langit. Setelah 8
keranjang penuh, nayuq Bentaraa1q Tuhaaq berkata kepada Raja Kilip: “ Engkau
tidak usah membawa semua biji-bijian ini ke bawah sana, tetapi hampurlah
biji-bijian ini dari pintu langit, maka lahan gundul akan segera ditumbuhi oleh
segala jenis tumbuh-tumbuhan besar kecil, pohon, rotan, sulur-suluran dan
paku-pakuan. Kalau engkau mau belajar membuat rumah, janganlah meniru rumah
kami karena rumah kami dari batu, tetapi tirulah rumah Demung Mentelaus yang
berada di depan lamin, karena dia membuat rumah dari kayu, dinding kulit kayu,
lantai bambu, memakai ikat dari rotan dan atap dari papan”. Raja Kilip lalu
belajar membuat rumah kepada Demung Mentelaus. Setelah delapan hari, maka Raja
Kilip pamit pulang sama nayuq Bentaraq Tuhaq dan berjalan sampai ke Simpang
Delapan. Lalu datanglah burung raksasa.
Raja Kilip kemudian membuat palang dan mengikat semua keranjang dan
badannya pada kaki raksasa. Raksasa kemudian terbang dengan kepak sayap yang
bergemuruh. Ketika melewati pintu langit, Raja Kilip lalu membuang semua
keranjang biji-bijian tersebut, sehingga semua biji-bijian jatuh berhamburan ke
bawah dan segera tumbuh menjadi berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Setelah sampai
ke bawah Raja Kilip melihat tanah Tenukng Renayaas yang sebelumnya tandus dan
gersang telah menjadi hutan rimba belantara yang dipenuhi oleh berbagai jenis
tumbuhan.
Itulah asal usul segala macam
tumbuhan, agar semua diketahui asal usulnya. Dan asal usul manusia bisa bikin
rumah dari kayu meniru rumah Demung Mentelaus. Cerita asal usuh kayu dan
rumahsSudah selesai, sudah tuntas, diceritakan sesuai apa adanya. Agar kami
mulai saat ini hidup subur makmur damai sejahtera serba berkecukupan dan
dijauhkan dari sakit penyakit dan marabahaya serta kesialan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar