Pada suatu masa ketika langit
baru memayung dan tanah baru berkembang atas kehendak yang Mahakuasa, sebuah
patung kayu yang dipahat oleh Mangelukng
Tunyukng, terkena angin puting beliung lalu berubah jadi manusia yang beranak
seorang anak lelaki bernama Genuq Segenam. Genuq Segenam setelah dewasa
beristeri seorang perempuan bernam Genuq Segagetupm. Beranak Wook Gorokng
Goncokng yang kemudian kawin dengan Wook Gurukng Guncukng. Wook Gorokng
Goncokng dan Wook Gurukng Guncukng beranak laki-laki bernama Mengenyo Bawo.
Mengenyo bawo kemudian kawin dengan perempuan bernama Mengenyaakng Laaakng
meperanakkan Wook Nagaaq Limaaq, Wook Nagaaq Limaaq beristeri Sementir Galaak
Turaak. Keduanya menurunkan Berebai Solaai, Berebai Solaai kemudian menurunkan
Semao Atoos Asaakng, menurunkan 9 bersaudara yang terdiri dari 6 saudara
laki-laki dan tiga saudara perempuan. Saudara yang tertua Kontiq Besiq, dengan adik-adinya antara lain Kontiq Ilap, Pamur
jautn, Antukng tiokng,
antukng tungan, Kojas Mantamias, Ajitn mantalasak, sedang saudara perempuan antara
lain Ayaakng Bine, Ilaakng Lemiang, Ratu Manaak. Tataau Antukng Tiookng
beristeri seorang perempuan bernama Ayaakng Sewelaakng Olo, beranak Jamentak,
Jementus dan Jemento,.sedang Tataau Antukng Tungaan beristeri Ayaakng Rangaai
Bulaatn, mempunyai anak bernama Sulitn Lungin. Kemudian suatu hari Tatau Kontiq
Besiq dan Tataau Kontiq Ilaap membunuh Tataau Antukng Tiookng dan Tataau
Antukng Tungan dan merebut isteri keduanya. Roh Antukng Tiookng kemudian jadi
Nayuq Delonookng Utak, sedang roh Antukng Tungaan kemudian jadi Nayuq
Delonookng payaakng. Ontiq Besiq dan
Kontiq Ilap yang dilanda rasa bersalah dan takut kemudian melarikan diri.
Kontiq Besiq membawa lari Ayaakng Sewelaakng Olo ke suatu tempat bernama Bawo
Langit, sedang Kontiq Ilap lari membawa Ayaakng Rangaai Bulaatn ke suatu tempat
bernama Bawo Lili Nyao. Semenjak iitu Jentak Jementus, Sulitn Lungin dan
Jemento jadi yatim dan tinggal bersama bibinya Ratu Manaak, dan kakek nenek
Diakng Dengar. Beberapa tahun berselang anak-anak tersebut menjadi besar dan
sering bertengkar dan kelahi dan selalu ditengahi oleh bibinya Ratu Manaak.
Pada suatu hari ketika mereka bertengkar, Ratu manak marah dan berkata :”Kalian
selalu bertengkar. Kalau memang kalian mempunyai keberanian dan punya kekuatan,
jangan bertengkar sesama kalian. Pergilah mencari Tataau Kontiq Besiq dan
Kontiq Ilap yang telah membunuh ayah kalian dan merebut serta mebawa lari ibu
kalian !” Mendengar bahwa ayah mereka dibunuh oleh Kontiq Besiq dan Kontiq Ilap
dan ibu mereka dibawa lari, mereka lalu berunding untuk mencari pembunuh orang
tua mereka tersebut. Setelah persiapan dianggap cukup, maka mereka berangkat
menuju ke negeri atas langit, tempat para pembunuh ayah mereka melarikan diri.
Di tengah perjalanan Jamentak, Jamentus dan Sulitn Lungin mengalami kecelakaan
dan cedera, sehingga tidak bisa meneruskan perjalanan, sehingga hanya adik
Jamento yang bisa meneruskan perjalanan ke negeri atas langit (Bawo langit).
Sesampainya di negeri atas langit, Jamento bertemu dengan ibunya Ayaakng
Sewelaakng Olo dan Ayaakng Rangaai Bulaatn bibinya. Wajahnya nampak bermuram
durja dan penuh dendam kesumat, dia tidak mau makan dan minum. Kata Ayaakng
Rangaai Bulaatn:” Kalau kamu merasa dendam dengan pembunuh ayahmu, pergilah ke
sebelah sana dan bunuhlah Kontiq Besiq Ingar Langit dan Kontiq Ilap Ingar Jautn
pembunuh ayahmu.” Jamento lalu bangun dan melompat dari tempat duduknya seperti
harimau yang hendak menerkam mangsa menuju ke arah Kontiq Besiq Ingaar Langit
dan Kontiq Ilap Ingar Jautn. Ia mencabut senjata “bulu” (sejenis mandau) dan
menebas kedua pembunuh ayahnya sampai mati. Kemudian dia memotong jantung Kontiq
Besiq Ingaar Langit dan Kontiq Ilap dan membuangnya ke belakang rumah. Jantung
Kontiq Besiq lalu tumbuh menjadi sejenis tumbuhan yang bernama buah beluluq
batuq, yang kemudian menurunkan tumbuhan yang disebut ulin (Eusideroxylon zwageri). Tumbuhan
tersebut menjadi tumbuhan asuhan dan kesayangan Ayaakng Lipir Langit adik tiri
perempuan dari Jamento, hasil dari perkawinan antara Kontiq Besiq dengan
Ayaakng Sewelaakng Olo.
Tersebutlah kisah Ayus bersama
adiknya Intokng, tinggal di suatu kampung bernama Kenyeraau, di kampung
tersebut mereka mengalami paceklik dan bahaya kelaparan selama 7 tahun. Ayus lalu
membuat ladang di Menaliiq, sedang Intokng kesenangannya berburu.Pada suatu
Intokng pergi berburu sampai ke suatu daerah bernama Buukng Mentalimo Awaas
Demekesaau. Terdengar suara kicau bermacam jenis burung yang sedang memakan
buah sebatang pohon beringin besar (nunuk rawaai solai). Di seberang pohon
beringin tersebut terdengar suara orang sedang membuat sesuatu. Setelah
dilihat, ternyata seorang manusia besi bernama Belekataakng Odak sedang
melubangi batu untuk perahu dengan kedua kakinya dan menarah badan perahu
dengan dadanya. Intokng lalu bersembunyi sambil bersiul :”Belekatakng odak
jelek bisa melubangi batu dengan kakinya dan menarah badan perahu dengan
dadanya”. Mendengar siulan tersebut Belekatakng Odak menjadi marah dan mengira
itu suara kicauan burung-burung enggang yang hingga di pohon beringin besar
tersebut. Dia lalu bergumam :”Jelek suara burung-burng enggang, mengejek aku”.
Lalu dia menghamburkan serpihan batu ke arah puncak pohon beringin besar
tersebut, mengenai burung-burung yang ada di atasnya. Burung-burung yang
terkena lemparan tersebut jatuh dan mati. Intokng kemudian mengumpulkan dan
memasukkan ke kiangnya sampai penuh, dan kemudian pulang ke kampung Kenyeraau. Kemudian
Ayuspulang ke kampung Kenyeraau, dan melihat Intokng banyak mendapat burung
lalu bertanya:” Dari mana kamu Intokng dapat burung-burung sebanyak itu”. Jawab
Intokng : “ Di dapat dari Buukng Mentalimo, kena lemparan Belokatakng Odaak”.
Kata Ayus :”Kalau begitu saya lagi yang akan pergi ke sana”. Jawab Intokng :”
Tidak usah kamu pergi ke sana Ayus, apa yang sudah saya dapat cukup untuk
dimakan kita berdua dan mungkin juga burung-burung sudah habis kena lempar
Belekatakng Odaak”. Tetapi Ayus tetap pada keinginannya. Dia menyiapkan bekal
dan kemudian pada pagi berikutnya berangkat ke Buukng Mentalimo. Sesampainya di
sana terdengar ramai suara kicauan burung-burung di atas pohon beringin besar
tersebut, sedang diseberang Awaas Demakesaau terdengar suara Belokatakng Odak
sedang membuat perahu dari batu. Ayus lalu bersembunyi di bawah pohon beringin
besar dan bersiul:” Belekatakng odak jelek bisa melubangi batu dengan kakinya
dan menarah badan perahu dengan dadanya”. Mendengar siulan tersebut Belekatakng
Odak kembali marah dan mengira itu suara kicauan burung-burung enggang yang
hinggap di pohon beringin besar tersebut. Dia lalu bergumam :”Jelek suara
burung-burng enggang, mengejek aku”. Lalu dia menghamburkan serpihan batu ke
arah puncak pohon beringin besar tersebut, mengenai burung-burung yang ada di
atasnya. Burung-burung yang terkena lemparan tersebut jatuh dan mati. Ayus
tidak memungut bangkai burung-burung yang mati tersebut, tetapi malahan
memanjat pohon beringin besar tersebut dan berdiri di atas dahan besar. Lalu
dia bersiul lagi:” Belekatakng odak jelek bisa melubangi batu dengan kakinya
dan menarah badan perahu dengan dadanya”. Belekataakng Odaak menengadah ke atas
pohon beringin besar tersebut dan melihat Ayus berdiri di cabang beringin yang
paling besar. Dia lalu mengambil serpihan perahu batu tersebut dan enghambur ke
arah Ayus, dan mengenai kepala Ayus. Ayus berteriak sambil memegang kepalanya
yang bocor. Kemudian Ayus turun dari pohon beringin besar tersebut. Kata
Belokataakng Odaak :” Kamu Ayus pergi ke sini berniat buruk, kalau kamu merasa
sakit hati, karena kepalamu bocor, mari melawan saya main tendang, kita
berjanji selama delapan hari delapan malam, kita main tendang di bawah pohon
semeluakng dengok”. Ayus kemudian pulang tanpa menjawab sepatah katapun. Sambil
menahan rasa sakit, Ayus bingung memikirkan bagaimana cara melawan Belokatakng
Odaak main tendang, nampaknya dia pasti kalah karena badan Belokatakng Odaak
terdiri dari besi semua. Tanpa terasa air matanya menetes, memikirkan kalau
melawan pasti dia akan mati. Dalam perjalanan pulang dia betemu dengan
laba-laba (Taakng Lamentaakng). “Apa yang engkau sedihkan Ayus?” tanya
laba-laba. Jawab Ayus:”Saya bingung, karena ada janji main tendang dengan
Belokatakng Odaak, manusia besi, kalau saya lawan pasti saya mati”. Kata la
ba-laba:”jangan takut Ayus, saya akan bikin tali di atas phon semeluakng
dengok, kalau dia tendang ke bawah maka kamu loncat ke atas sambil berpegang
pada tali yang saya buat, maka tendangan pasti meleset”.Kemudian Ayus berpisah
dengan laba-laba, sambil memikirkan bagaimana kalau Belokatakng Odaak, tendang
ke atas pasti kena paha. Dalam perjalanan pulang kemudian dia bertemu dengan
seekor anak landak (Renaak Anaak Tetukng). “Apa yang engkau sedihkan Ayus?”
tanya anak landak. Jawab Ayus:”Saya bingung, karena ada janji main tendang
dengan Belokatakng Odaak, manusia besi. Kalau dia tendang ke bawah saya masih
bisa meloncat ke atas sambil berpegang pada tali yang dibuat oleh laba-laba,
tapi kalau dia tendang ke atas pasti kena saya dan saya pasti mati ”. Kata Anak
landak Renaak Anak Tetukng: “O begitu. Jangan takut Ayus, saya akan membantu
kamu buat lubang di pangkal batang semeluakng dengok, jadi kalau dia tendang ke
atas kamu terjun ke dalam lubang dan tendangannya tidak mengenai kamu, tetapi
saya ada permintaan kepada kamu agar mencarikan saya buah belulu batu, yang
dimiliki putri Lipir Langit”. “Ya, nanti saya cari buah belulu batu untuk kamu
Renak Anak Tetukng,” kata Ayus. Buah belulu batu Setelah itu mereka berpisah;
Ayus melanjutkan perjalanan pulang ke kampung Kenyeraau. Melihat Ayus pulang
tanpa membawa apa-apa, maka Intokng bertanya:” Kok pulang tidak membawa
apa-apa?”. Jawab Ayus :” Saya tidak sempat memungut burung-burung yang jatuh,
karena kepala saya sakit kena lemparan Belokataakng Odaak, dia marah karena
tersinggung dengan siulan saya. Dia mengajak saya main tendang dan berjanji
selama 8 hari, sekarang masih 7 hari ”. Kata Intokng:” Jangan pergi ke sana,
batalkan saja janji itu. Karena Belokataakng Odaak tidak terlawan, engkau akan
mati bila melawan dia main tendang.” Tetapi Ayus malu membatalkan janji main
tendang sama Belokataakng Odak dan setelah sampai waktunya dia berangkat ke
Buukng Mantalimo untuk melawan Belokatakng Odaak untuk main tendang di pohon
semeluaakng dengok. Sesampai di sana kata Ayus :” Kamu Belokataakng Odaak yang
tendang duluan, saya siap memasang kaki”. Maka Ayus memasang kakinya di pangkal
pohon semeluakng dengok, sementara Belokataakng Odaak mengambil ancang-ancang
dari jauh untuk menendang. Pada saat Belokataakng Odaak berlari dan menendang
ke bawah, maka Ayus melompat ke atas berpegang pada tali yang telah direntang
oleh Taakng Lamentakng, namun pantatnya teriris sedikit oleh kaki Belokatakng
Odaak. Kemudian belokataakng Odak berlari dan menendang lagi ke atas dan Ayus
terjun ke dalam lubang yang telah dibuat oleh Renaak Anaak Tetukng, dan kulit
kepala Ayus bagian atas teriris oleh kaki Belokataakng Odaak. Kemudian kata Belokataakng Odak:”Sekarang
giliran saya yang pasang, dan kamu yang menendang”. Ayus kemudian mengambil
ancang-ancang dari seberang gunung. Sementara dia mengambil ancang-ancang, Ayus
bertemu dengan Belekutukng Batuq seorang manusia batu. Belekutukng Batuq
bertanya:” Hendak kemana kamu Ayus, kelihatan terburu-buru?”. Jawab Ayus: “ Saya
sedang mengambil ancang-ancang menendang Belokataakng Odaak, karena kami
bermain tendang”. “O begitu,” kata Belokutukng Batuq. “Kalau begitu kamu
menyingkir saja, saya yang akan menendang Belokataakng Odaak, karena dia bukan
lawan kamu, tetapi sayalah lawan yang seimbang,” kata Belokutukng Batuq. Maka
melompatlah Belokutukng Batuq dari seberang bukit berlari menendang
Belokataakng Odaak. Maka terdengar suara menggelegar bagai petir, ketika kaki
dan badan Belokutukng Batuq bertabrakan dengan kaki dan tubuh Belokataakng
Odaak, lalu keduanya bergumul dengan hebatnya, mulai dari Buukng Mantalimo,
sampai ke seluruh wilayah dan badan keduanya menjadi remuk, dan tersebar
kemana-mana menjadi batu dan besi. Oleh sebab itu batu dan besi ada di
wilayah-wilayah tertentu, dihulu sungai, di gunung, di lembah, di hilir sungai
dan semua wilayah. Setelah pertarungan selesai dan keduanya sama- sama binasa,
maka Ayus pergi membawa lanjung paukng olikng memanjat buah belulu batu untuk
membayar utang kepada Renaak anak Tetukng. Ayus memetik buah belulu batu milik putri Lipiir langit, dan dipelihara
dan dijaga oleh Sewelaakng Olo dan Rangaai Bulaat, mengisi lanjung paukng
olikng sampai penuh. Ketika Ayus turun, maka tali lanjungnya putus dan buah belulu vbatu jatuh terhambur
ke segala penjuru, jatuh ke seluruh bukit dan lembah. Hanya satu
buah yang diikat di cawat Ayus yang tidak jatuh. Ayus kemudian pergi ke Buukng
mantalimo melapor kepada Renaak Anaak Tetukng, bahwa dia telah berhasil
mengambil buah belulu batu, tetapi ketika turun , lanjungnya putus dan buah
terhambur keseluruh lereng dan lembah.
Jadia Ayus menyruh Renaak Anak Tetukng mencari buah belulu batu ke lembah dan
lereng di seluruh wilayah hutan yang ada. Buah tersebut yang kemudian tumbuh
menjadi pohon ulin (Eusideroxylon zwageri). Kemudian mereka berpisah. Ayus
pulang ke kampung Kenyeraau, lalu sesampainya di sana, dia lalu menanam buah
belulu batu di tengah halaman (padakng kelamaaq). Buah Setelah sekian lama kena
hujan dan kena panas, buah tersebut berkecambah 7 batang, kemudian 8 batang.
Yang tumbuh 7 batang menjadi Ulin, yang disebut teluyatn banaat, yang delapan
batang tumbuh menjadi ulin dengan nama teluyatn buso. Teluyatn banaat digunakan
untuk bahan dan peralatan pada upacara kematian kwangkai dan teluyatn buso
digunakan untuk upacara ritual beliatn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar