Rabu, 09 Oktober 2013

Mitos asal usul tumbuhan ulin (Eusideroxylon zwageri T et B)



Pada suatu masa ketika langit baru memayung dan tanah baru berkembang atas kehendak yang Mahakuasa, sebuah patung kayu yang dipahat oleh  Mangelukng Tunyukng, terkena angin puting beliung lalu berubah jadi manusia yang beranak seorang anak lelaki bernama Genuq Segenam. Genuq Segenam setelah dewasa beristeri seorang perempuan bernam Genuq Segagetupm. Beranak Wook Gorokng Goncokng yang kemudian kawin dengan Wook Gurukng Guncukng. Wook Gorokng Goncokng dan Wook Gurukng Guncukng beranak laki-laki bernama Mengenyo Bawo. Mengenyo bawo kemudian kawin dengan perempuan bernama Mengenyaakng Laaakng meperanakkan Wook Nagaaq Limaaq, Wook Nagaaq Limaaq beristeri Sementir Galaak Turaak. Keduanya menurunkan Berebai Solaai, Berebai Solaai kemudian menurunkan Semao Atoos Asaakng, menurunkan 9 bersaudara yang terdiri dari 6 saudara laki-laki dan tiga saudara perempuan. Saudara yang tertua Kontiq Besiq, dengan adik-adinya antara lain Kontiq Ilap, Pamur jautn, Antukng tiokng, antukng tungan, Kojas Mantamias, Ajitn mantalasak, sedang saudara perempuan antara lain Ayaakng Bine, Ilaakng Lemiang, Ratu Manaak. Tataau Antukng Tiookng beristeri seorang perempuan bernama Ayaakng Sewelaakng Olo, beranak Jamentak, Jementus dan Jemento,.sedang Tataau Antukng Tungaan beristeri Ayaakng Rangaai Bulaatn, mempunyai anak bernama Sulitn Lungin. Kemudian suatu hari Tatau Kontiq Besiq dan Tataau Kontiq Ilaap membunuh Tataau Antukng Tiookng dan Tataau Antukng Tungan dan merebut isteri keduanya. Roh Antukng Tiookng kemudian jadi Nayuq Delonookng Utak, sedang roh Antukng Tungaan kemudian jadi Nayuq Delonookng payaakng. Ontiq  Besiq dan Kontiq Ilap yang dilanda rasa bersalah dan takut kemudian melarikan diri. Kontiq Besiq membawa lari Ayaakng Sewelaakng Olo ke suatu tempat bernama Bawo Langit, sedang Kontiq Ilap lari membawa Ayaakng Rangaai Bulaatn ke suatu tempat bernama Bawo Lili Nyao. Semenjak iitu Jentak Jementus, Sulitn Lungin dan Jemento jadi yatim dan tinggal bersama bibinya Ratu Manaak, dan kakek nenek Diakng Dengar. Beberapa tahun berselang anak-anak tersebut menjadi besar dan sering bertengkar dan kelahi dan selalu ditengahi oleh bibinya Ratu Manaak. Pada suatu hari ketika mereka bertengkar, Ratu manak marah dan berkata :”Kalian selalu bertengkar. Kalau memang kalian mempunyai keberanian dan punya kekuatan, jangan bertengkar sesama kalian. Pergilah mencari Tataau Kontiq Besiq dan Kontiq Ilap yang telah membunuh ayah kalian dan merebut serta mebawa lari ibu kalian !” Mendengar bahwa ayah mereka dibunuh oleh Kontiq Besiq dan Kontiq Ilap dan ibu mereka dibawa lari, mereka lalu berunding untuk mencari pembunuh orang tua mereka tersebut. Setelah persiapan dianggap cukup, maka mereka berangkat menuju ke negeri atas langit, tempat para pembunuh ayah mereka melarikan diri. Di tengah perjalanan Jamentak, Jamentus dan Sulitn Lungin mengalami kecelakaan dan cedera, sehingga tidak bisa meneruskan perjalanan, sehingga hanya adik Jamento yang bisa meneruskan perjalanan ke negeri atas langit (Bawo langit). Sesampainya di negeri atas langit, Jamento bertemu dengan ibunya Ayaakng Sewelaakng Olo dan Ayaakng Rangaai Bulaatn bibinya. Wajahnya nampak bermuram durja dan penuh dendam kesumat, dia tidak mau makan dan minum. Kata Ayaakng Rangaai Bulaatn:” Kalau kamu merasa dendam dengan pembunuh ayahmu, pergilah ke sebelah sana dan bunuhlah Kontiq Besiq Ingar Langit dan Kontiq Ilap Ingar Jautn pembunuh ayahmu.” Jamento lalu bangun dan melompat dari tempat duduknya seperti harimau yang hendak menerkam mangsa menuju ke arah Kontiq Besiq Ingaar Langit dan Kontiq Ilap Ingar Jautn. Ia mencabut senjata “bulu” (sejenis mandau) dan menebas kedua pembunuh ayahnya sampai mati. Kemudian dia memotong jantung Kontiq Besiq Ingaar Langit dan Kontiq Ilap dan membuangnya ke belakang rumah. Jantung Kontiq Besiq lalu tumbuh menjadi sejenis tumbuhan yang bernama buah beluluq batuq, yang kemudian menurunkan tumbuhan yang disebut ulin (Eusideroxylon zwageri). Tumbuhan tersebut menjadi tumbuhan asuhan dan kesayangan Ayaakng Lipir Langit adik tiri perempuan dari Jamento, hasil dari perkawinan antara Kontiq Besiq dengan Ayaakng Sewelaakng Olo.
Tersebutlah kisah Ayus bersama adiknya Intokng, tinggal di suatu kampung bernama Kenyeraau, di kampung tersebut mereka mengalami paceklik dan bahaya kelaparan selama 7 tahun. Ayus lalu membuat ladang di Menaliiq, sedang Intokng kesenangannya berburu.Pada suatu Intokng pergi berburu sampai ke suatu daerah bernama Buukng Mentalimo Awaas Demekesaau. Terdengar suara kicau bermacam jenis burung yang sedang memakan buah sebatang pohon beringin besar (nunuk rawaai solai). Di seberang pohon beringin tersebut terdengar suara orang sedang membuat sesuatu. Setelah dilihat, ternyata seorang manusia besi bernama Belekataakng Odak sedang melubangi batu untuk perahu dengan kedua kakinya dan menarah badan perahu dengan dadanya. Intokng lalu bersembunyi sambil bersiul :”Belekatakng odak jelek bisa melubangi batu dengan kakinya dan menarah badan perahu dengan dadanya”. Mendengar siulan tersebut Belekatakng Odak menjadi marah dan mengira itu suara kicauan burung-burung enggang yang hingga di pohon beringin besar tersebut. Dia lalu bergumam :”Jelek suara burung-burng enggang, mengejek aku”. Lalu dia menghamburkan serpihan batu ke arah puncak pohon beringin besar tersebut, mengenai burung-burung yang ada di atasnya. Burung-burung yang terkena lemparan tersebut jatuh dan mati. Intokng kemudian mengumpulkan dan memasukkan ke kiangnya sampai penuh, dan kemudian pulang ke kampung Kenyeraau. Kemudian Ayuspulang ke kampung Kenyeraau, dan melihat Intokng banyak mendapat burung lalu bertanya:” Dari mana kamu Intokng dapat burung-burung sebanyak itu”. Jawab Intokng : “ Di dapat dari Buukng Mentalimo, kena lemparan Belokatakng Odaak”. Kata Ayus :”Kalau begitu saya lagi yang akan pergi ke sana”. Jawab Intokng :” Tidak usah kamu pergi ke sana Ayus, apa yang sudah saya dapat cukup untuk dimakan kita berdua dan mungkin juga burung-burung sudah habis kena lempar Belekatakng Odaak”. Tetapi Ayus tetap pada keinginannya. Dia menyiapkan bekal dan kemudian pada pagi berikutnya berangkat ke Buukng Mentalimo. Sesampainya di sana terdengar ramai suara kicauan burung-burung di atas pohon beringin besar tersebut, sedang diseberang Awaas Demakesaau terdengar suara Belokatakng Odak sedang membuat perahu dari batu. Ayus lalu bersembunyi di bawah pohon beringin besar dan bersiul:” Belekatakng odak jelek bisa melubangi batu dengan kakinya dan menarah badan perahu dengan dadanya”. Mendengar siulan tersebut Belekatakng Odak kembali marah dan mengira itu suara kicauan burung-burung enggang yang hinggap di pohon beringin besar tersebut. Dia lalu bergumam :”Jelek suara burung-burng enggang, mengejek aku”. Lalu dia menghamburkan serpihan batu ke arah puncak pohon beringin besar tersebut, mengenai burung-burung yang ada di atasnya. Burung-burung yang terkena lemparan tersebut jatuh dan mati. Ayus tidak memungut bangkai burung-burung yang mati tersebut, tetapi malahan memanjat pohon beringin besar tersebut dan berdiri di atas dahan besar. Lalu dia bersiul lagi:” Belekatakng odak jelek bisa melubangi batu dengan kakinya dan menarah badan perahu dengan dadanya”. Belekataakng Odaak menengadah ke atas pohon beringin besar tersebut dan melihat Ayus berdiri di cabang beringin yang paling besar. Dia lalu mengambil serpihan perahu batu tersebut dan enghambur ke arah Ayus, dan mengenai kepala Ayus. Ayus berteriak sambil memegang kepalanya yang bocor. Kemudian Ayus turun dari pohon beringin besar tersebut. Kata Belokataakng Odaak :” Kamu Ayus pergi ke sini berniat buruk, kalau kamu merasa sakit hati, karena kepalamu bocor, mari melawan saya main tendang, kita berjanji selama delapan hari delapan malam, kita main tendang di bawah pohon semeluakng dengok”. Ayus kemudian pulang tanpa menjawab sepatah katapun. Sambil menahan rasa sakit, Ayus bingung memikirkan bagaimana cara melawan Belokatakng Odaak main tendang, nampaknya dia pasti kalah karena badan Belokatakng Odaak terdiri dari besi semua. Tanpa terasa air matanya menetes, memikirkan kalau melawan pasti dia akan mati. Dalam perjalanan pulang dia betemu dengan laba-laba (Taakng Lamentaakng). “Apa yang engkau sedihkan Ayus?” tanya laba-laba. Jawab Ayus:”Saya bingung, karena ada janji main tendang dengan Belokatakng Odaak, manusia besi, kalau saya lawan pasti saya mati”. Kata la ba-laba:”jangan takut Ayus, saya akan bikin tali di atas phon semeluakng dengok, kalau dia tendang ke bawah maka kamu loncat ke atas sambil berpegang pada tali yang saya buat, maka tendangan pasti meleset”.Kemudian Ayus berpisah dengan laba-laba, sambil memikirkan bagaimana kalau Belokatakng Odaak, tendang ke atas pasti kena paha. Dalam perjalanan pulang kemudian dia bertemu dengan seekor anak landak (Renaak Anaak Tetukng). “Apa yang engkau sedihkan Ayus?” tanya anak landak. Jawab Ayus:”Saya bingung, karena ada janji main tendang dengan Belokatakng Odaak, manusia besi. Kalau dia tendang ke bawah saya masih bisa meloncat ke atas sambil berpegang pada tali yang dibuat oleh laba-laba, tapi kalau dia tendang ke atas pasti kena saya dan saya pasti mati ”. Kata Anak landak Renaak Anak Tetukng: “O begitu. Jangan takut Ayus, saya akan membantu kamu buat lubang di pangkal batang semeluakng dengok, jadi kalau dia tendang ke atas kamu terjun ke dalam lubang dan tendangannya tidak mengenai kamu, tetapi saya ada permintaan kepada kamu agar mencarikan saya buah belulu batu, yang dimiliki putri Lipir Langit”. “Ya, nanti saya cari buah belulu batu untuk kamu Renak Anak Tetukng,” kata Ayus. Buah belulu batu Setelah itu mereka berpisah; Ayus melanjutkan perjalanan pulang ke kampung Kenyeraau. Melihat Ayus pulang tanpa membawa apa-apa, maka Intokng bertanya:” Kok pulang tidak membawa apa-apa?”. Jawab Ayus :” Saya tidak sempat memungut burung-burung yang jatuh, karena kepala saya sakit kena lemparan Belokataakng Odaak, dia marah karena tersinggung dengan siulan saya. Dia mengajak saya main tendang dan berjanji selama 8 hari, sekarang masih 7 hari ”. Kata Intokng:” Jangan pergi ke sana, batalkan saja janji itu. Karena Belokataakng Odaak tidak terlawan, engkau akan mati bila melawan dia main tendang.” Tetapi Ayus malu membatalkan janji main tendang sama Belokataakng Odak dan setelah sampai waktunya dia berangkat ke Buukng Mantalimo untuk melawan Belokatakng Odaak untuk main tendang di pohon semeluaakng dengok. Sesampai di sana kata Ayus :” Kamu Belokataakng Odaak yang tendang duluan, saya siap memasang kaki”. Maka Ayus memasang kakinya di pangkal pohon semeluakng dengok, sementara Belokataakng Odaak mengambil ancang-ancang dari jauh untuk menendang. Pada saat Belokataakng Odaak berlari dan menendang ke bawah, maka Ayus melompat ke atas berpegang pada tali yang telah direntang oleh Taakng Lamentakng, namun pantatnya teriris sedikit oleh kaki Belokatakng Odaak. Kemudian belokataakng Odak berlari dan menendang lagi ke atas dan Ayus terjun ke dalam lubang yang telah dibuat oleh Renaak Anaak Tetukng, dan kulit kepala Ayus bagian atas teriris oleh kaki Belokataakng Odaak.  Kemudian kata Belokataakng Odak:”Sekarang giliran saya yang pasang, dan kamu yang menendang”. Ayus kemudian mengambil ancang-ancang dari seberang gunung. Sementara dia mengambil ancang-ancang, Ayus bertemu dengan Belekutukng Batuq seorang manusia batu. Belekutukng Batuq bertanya:” Hendak kemana kamu Ayus, kelihatan terburu-buru?”. Jawab Ayus: “ Saya sedang mengambil ancang-ancang menendang Belokataakng Odaak, karena kami bermain tendang”. “O begitu,” kata Belokutukng Batuq. “Kalau begitu kamu menyingkir saja, saya yang akan menendang Belokataakng Odaak, karena dia bukan lawan kamu, tetapi sayalah lawan yang seimbang,” kata Belokutukng Batuq. Maka melompatlah Belokutukng Batuq dari seberang bukit berlari menendang Belokataakng Odaak. Maka terdengar suara menggelegar bagai petir, ketika kaki dan badan Belokutukng Batuq bertabrakan dengan kaki dan tubuh Belokataakng Odaak, lalu keduanya bergumul dengan hebatnya, mulai dari Buukng Mantalimo, sampai ke seluruh wilayah dan badan keduanya menjadi remuk, dan tersebar kemana-mana menjadi batu dan besi. Oleh sebab itu batu dan besi ada di wilayah-wilayah tertentu, dihulu sungai, di gunung, di lembah, di hilir sungai dan semua wilayah. Setelah pertarungan selesai dan keduanya sama- sama binasa, maka Ayus pergi membawa lanjung paukng olikng memanjat buah belulu batu untuk membayar utang kepada Renaak anak Tetukng. Ayus memetik buah belulu batu milik putri Lipiir langit, dan dipelihara dan dijaga oleh Sewelaakng Olo dan Rangaai Bulaat, mengisi lanjung paukng olikng sampai penuh. Ketika Ayus turun, maka tali lanjungnya putus  dan buah belulu vbatu jatuh terhambur ke segala penjuru, jatuh ke seluruh  bukit dan lembah. Hanya satu buah yang diikat di cawat Ayus yang tidak jatuh. Ayus kemudian pergi ke Buukng mantalimo melapor kepada Renaak Anaak Tetukng, bahwa dia telah berhasil mengambil buah belulu batu, tetapi ketika turun , lanjungnya putus dan buah terhambur keseluruh lereng  dan lembah. Jadia Ayus menyruh Renaak Anak Tetukng mencari buah belulu batu ke lembah dan lereng di seluruh wilayah hutan yang ada. Buah tersebut yang kemudian tumbuh menjadi pohon ulin (Eusideroxylon zwageri). Kemudian mereka berpisah. Ayus pulang ke kampung Kenyeraau, lalu sesampainya di sana, dia lalu menanam buah belulu batu di tengah halaman (padakng kelamaaq). Buah Setelah sekian lama kena hujan dan kena panas, buah tersebut berkecambah 7 batang, kemudian 8 batang. Yang tumbuh 7 batang menjadi Ulin, yang disebut teluyatn banaat, yang delapan batang tumbuh menjadi ulin dengan nama teluyatn buso. Teluyatn banaat digunakan untuk bahan dan peralatan pada upacara kematian kwangkai dan teluyatn buso digunakan untuk upacara ritual beliatn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar