Selasa, 08 Oktober 2013

Mitos asal usul keriatn kerataatn (Pakaatn Nyahuq)



Jadi saya menceriterakan lagi tentang kejadian jaman lampau. Raja Aji bersahabat dengan Perjadiq. Kata Perjadiq:”Begini sahabat, saya pulang ke negeri kayangan. Kalian waalaupun paceklik hebat janganlah membuat ladang di Simpukng Putus, sebab itu tempat Rempak manik meninggal.” “Ya,” kata Raja Aji. Pada mulanya Raja Aji tidak mengerahkan rakyatnya untuk berladang di tempat tersebut karena hutan y ang subur masih luas. Pada suatu saat lahan subur telah habis dibuat ladang, hanya tinggal areal Simpukng Putus yang diperkirakan masih subur. Raja Aji memanggil seluruh rakyatnya untukmelaksanakan pertemuan dan memutuskan membuat ladang di areal Simpukng Putus. Kata Raja Aji:” Mulai besok pagi kita semua laki-laki pergi ke Simpukng Putus untuk menebas ladang, sedang para perempuan mempersiapkan makanan di lamin. Simpukng Putus pasti subur untuk menanam padi dan tanaman lainnya, sehingga kita terhindar dari bahaya kelaparan.” Semua rakyat menyetujui titah Raja Aji. Keesokan harinya mereka beramai-ramai pergi menebas di areal Simpukng Putus. Perjadiq menoleh ke bawah dan terlihat olehnya Raja Aji dan rakyatnya menebas Simpukng Putus untuk ladang, lalu dia membuang sepah dari sirih dan menyruh jadi burung mentit (sejenis burung nyahuq yang mengingatkan akan terjadinya hal-hal buruk). Maka burung mentit terbang ke sana kemari di sekitar tebasan Raja Aji sambil berkicau. Melihat ada b urung mentit, maka Raja Aji berkata :” Burung ini pasti utusan Perjadiq sahabatku. Sediakan makanan dan beri makan utusan ini.” Anak buah Raja Aji menyiapkan makanan dan memberi makan burung mentit tersebut sampai kenyang.  Burung mentit lalu pulang dan melapor kepada Perjadiq, bahwa mereka telah memberi dia makan dan terus menebas sampai sore. Keesokan harinya Raja Aji dan rakyatnya melanjutkan pekerjaan membuat ladang dan ketika perjadi melihat, maka dia membuang pelepah pisang menyuruh menjadi ular bumui. Ular bumui lalu membelit tempat sirih Raja Aji. Melihat ada ular bumi membelit tempat sirihnya, maka Raja Aji menyuruh anak buahnya memberi makan. Setelah diberi makan sampai kenyang ular bumui tersebut kembali ke kayangan tempat Perjadiq dan melapor bahwa dia tidak mampu mencegah Raja Aji dan rakyatnya membuat ladang. Mereka memberinya makan dan terus menebas. Hari berikutnya ketika Perjadiq melihat Raja Aji bersama rakyatnya terus menebas membuat ladang, maka dia membuang simpai dan menyuruh jadi burung juruh. Burung tersebut terbang ke sana kemari, berkicau dan mengetuk-ngetuk tempat sirih dan batu asah. Melihat ada burung juruh, maka Raja Aji menyuruh anak buahnya memberi makan utusan perjadiq tersebut sampai kenyang. Setelah kenyang, maka burung juruh kembali ke kayangan tempat perjadiq dan melaporkan kegagalannya mencegah Raja Aji dan rakyatnya membuat ladang. Keesokan harinya Perjadiq membuang lenau dan menyuruh menjadi biawak. Maka biawak berjalan lewat di hadapan Raja Aji dan berhenti di atas batu asah. Melihat ada biawak, maka Raja Aji menyuruh memberi makan sampai kenyang utusan Perjadiq tersebut dan setelah itu meneruskan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan keberadaannya. Biawak tersebut kembali ke kayangan melaporkan kepada perjadiq bahwa dia gagal mencegah Raaja Aji membuat ladang. Akhirnya tebasan ladang tersebut selesai, dan Raja Aji lalu menebang pohon-pohon besar sampai selesai. Setelah selesai di tebang, maka tumpukan daun dan kayu terkena panas terik selama 8 hari dan menjadi kering. Maka Raja Aji membakar ladangnya. Beberapa hari s etelah ladang dibakar, maka mereka lalu menanam padi. Padi tumbuh dengan suburnya dan juga rambutan (siwo) di pinggir ladang berbunga. Raja Aji dan rakyatnya lalu membangun rumah sepanjang 8 sambungan (8 olaakng) di tengah ladang. Perjadiq kemudian turun dari dunia kayangan ke bawah lalu menjadi lebah. Lebah turun lalu mengelilingi rumah tersebut selama 8 putaran lalu hinggap di sempayatn dan sempak. Melihat ada gerombolan lebah, maka Raja Aji menyuruh anak buahnya mengambil ayam dan babi beserta beras padi, beras ketan dan seluruh perlengkapan. Lalu mereka memanggil dukun beliatn untuk melaksanakan upacara memberi makan nyahuq. Maka dilakukanlah upacara memberi makan nyahuq di dalam rumah di tengah ladang tersebut. Setelah semuanya masak dan upacara selesai, maka Raja Aji mempersiapkan hidangan. Setelah hidangan siap, maka kata Raja Aji:” Turunlah Sahabat, makanan sudah siap, silahkan makan.” Terlihat kumpulan lebah bergerak-gerak, lalu turun ke bawah dan berubuah jadi sesosok manusia. Kata Perjadiq:” Engkau keterlaluan sahabatku Raja Aji. Padahal saya sudah larang kalian membuat ladang di Simpukng Putus ini, mengapa kalian tetap melanggar juga. Kalau begitu dengan melihat ketekunan dan keuletan kalian, maka saya memberkati agar kalian hidup sejahtera serba berkelimpahan.” Jawab Raja Aji :” Kami terpaksa berladang di hutan larangan Simpukng Putus karena hutan yang tanahnya subur di daerah lain sudah habis, sehingga kami diancam bahaya kelaparan. Jadi kami mohon maaf telah melanggar larangan sahabatku Perjadiq. Sahabatku berdua makanlah, dan sisa makanan silahkan di bawa pulang ke negeri kayangan.” Setelah selesai makan, maka Perjadiq dan isterinya kembali ke dunia kayangan. Sejak saat itu atas berkat dari perjadiq, Raja Aji hidup makmur sejahteraserba berkecukupan. Panenan berhasil dan disimpan dalam delapan gudang penyimpanan padi dan delapan gudang penyimpanan ketan terisi penuh, demikiasn juga tanaman lain tumbuh dengan suburnya. Setelah hidup berkecukupan, maka Raja Aji mengajak rakyatnya mengadakan pesta Belian Nuak dengan mengundang Pemimpin dan warga dari kampung sekitar Tanyukng Lahukng. Maka dipanggillah para dukun beliatn untuk melaksanakan upacara tersebut yang terdiri dari 8 dukun beliatn laki-laki yang diketuai oleh Kakek Singkar Olo, dan 9 dukun beliatn perempuan yang dikepalai oleh nenek Pantaak. Keramaian pesta pora di Tanyukng Lahukng tersebut di dengar oleh Belew salah seorang putra Perjadiq. Maka katanya :” Saya ingin bertamu ke Raja Aji ikut mereka berpesta pora melaksanakan upacara Beliatn Nuaak.” Namun dilarang sama kedua orang tuanya karena tidak baik bergaul dengan orang di bawah kayangan, karena mereka hidupnya berbeda dengan orang kayangan, sehingga bisa mempunyai pengaruh buruk bagi orang kayangan. Namun Belew berkeras minta diturunkan. Maka Belewditurunkan memakai Langkar Emas menuju ke Simpang Delapan. Dari Simpang Delapan Belew meneruskan perjalanannya menuju Tanyukng Lahukng dan langsung masuk dan duduk di balai upacara. Melihat ada Beleew, maka Raja Aji berkata: “ Itu pertanda kita hidup sejahtera, maka para dewa berkenan naik turun ke tempat kita upacara. Menarilah engkau Beleew, anak dewa.” Maka Belewpun sangat gembira dan ikut menari diantara banyak  pemuda dan gadis sampai pagi. Setelah sekian lama, maka upacara beliatn selesai. Raja Aji membayar upah para pemeliatn dan mengantar mereka pulang. Kemudian mereka melaksanakan acara mengurung diri di dalam lamin untuk pemali. Belewpun tetap tinggal di lamin Tanyukng Lahukng ikut melaksanakan pemali.
Setelah selesai acara pemali, maka Belew bercerita pada Raja Aji beserta anak cucu dan kaum kerabatnya. Kata Beleew:” Begini Raja Aji, pertama-tama maksud kedatangan saya ke sini adalah menghadiri upacara beliatn. Selain itu, saya bermaksud mencari ayam yang pernah terkena kutil dan babi yang pernah terkena penyakit bengook.” Jawab anak cucu dan kaum kerabat Raja Aji :” Kami ada ayam yang kena kutil dan babi yang kena penyakit bengook, tetapi semuanya telah mati kemarin.” Kata Raja Aji:” Bodoh kalian semua. Bukan hewan-hewan itu yang dia cari, tetapi seorang gadis untuk isteri.”
Maka warga Tanyukng lahukng yang beradat menerima dan melayani Belew dengan baik dan yang tidak beradat mengacuhkan kehadiran Beleew. Maka kata Raja Aji:” Baiklah kalau negkau mempunyai niat beranak isteri di dunia bawah ini. Ada putriku bernama Ave untuk isterimu.” Setelah tercapai kata sepakat, maka dilakukan upacara adat pernikahan antara Beleew dan Ave (upacara pelulukng peruku) selama 8 hari 8 malam. Setelah berkeluarga selama 2-3 tahun, maka timbullah sifat tidak baik Beleew. Dia mengambil hewan buruan yang kena jerat warga, demikian juga ikan yang kena perangkap di sungai dan semua kelakuan yang jahat lainnya. Ketika warga mengadu pada Raja Aji, maka Raja Aji marah dengan warga yang tersebut karena dianggap iri hati dengan anak menantunya. Pada suatu sore Raja Aji membawa seluruh warga rapat untuk menjelaskan bahwa dilarang memanen buah rambutan (siwo) yang baru menguning di tengah ladang. Seluruh warga berjanji akan mentaati larangan tersebut. Namun Beleew bangun pada subuh, mengasah parang dan kemudian mempersiapkan kiang lalu berangkat ke ladang. Sesampainya di ladang Beleew lalu memanjat pohon rambutan (siwo) yang berada di tengah ladang tersebut lalu memotong seluruh cabang yang berbuah, kemudian mengumpulkan buah tersebut ke dalam kiangnya sampai penuh. Ketika sore hari dia pulang membawa buah tersebut dan menaruh buah tersebut di tengah lamin untuk dimakan warga. Maka Raja Aji memuji menantunya dan mencemooh warga:” Menantu saya ini baik, bawa buah untuk kalian semua. Mengapa kalian menceritakan tentang kejelekan dia selama ini.”
Keesokan harinya Raja Aji pergi ke ladang, lalu dilihatnya pohon rambutan (siwo), cabang-cabangnya sudah habis di potong dan jatuh terkena tanaman padi. Raja Aji kemudian pulang ke lamin dengan penuh amarah dan memanggil semua warga berkumpul, lalu betanya siapa diantara mereka pergi ke ladang dan memotong dahan rambutan (siwo) tersebut tanpa seijin dia. Sebagian warga mengatakan tidak mengetahui siapa yang memanen rambutan tersebut. Lalu beberapa warga melapor bahwa Beleew subuh kemarin berangkat ke ladang dan sorenya membawa buah rambutan (siwo) penuh dalam kiangnya dan ditaruh ditengah lamin. Maka Raja Aji sangat marah dengan Beleew yang telah melanggar larangannya. Maka dia mengajak warga berkumpul melaksanakan upacara beliatn dengan tujuan untuk membunuh Beleew sebagai korban. Mereka memanggil 8 dukun belian laki-laki yang diketuai Kakek Singkaar Olo dan 9 dukun beliatn perempuan yang diketuai nenek Pantaak. Sejak dimulainya upacara beliatn, Beleew merasa tubuhnya tidak enak dan tidak bertenaga seakan-akan mengantuk setiap saat. Lalu kata Beleew pada Ave dan Raja Aji:” Saya mau menghadap ayah di dunia kayangan, karena saya merasa sakit.” Jawab Raja Aji:” Baiklah, tetapi nengkau jangan lama di sana, karena upacara beliatn sebentar lagi mencapai puncaknya.”
“Ya, saya tidak lama di sana,” jawab Beleew. Ketika Beleew berjalan melewati sebuah labu tempat air dan sebuah guci kecil, keduanya meminta Beleew bertanya kepada Perjadiq, ayahnya siapa diantara keduanya yang lebih tinggi kedudukannya. “Ya, nanti saya tanyakan,” jawab Beleew. Lalu ketika mendekati pintu, batu pengasah dan parang juga memohon Beleew bertanya kepada ayahnya siapa diantara mereka yang lebih tinggi kedudukannya. Kemudian ketika melewati pelataran, seekor anjing memohon Beleew bertanya kepada ayahnya kenapa dia tidak bisa menyalak dan berburu babi lagi seperti dulu. Beleew juga menyanggupi untuk bertanya kepada ayahnya. Ia kemudian menuruni tangga dan sampai di halaman lamin. Seekor ayam jago berwarna putih memohon Beleew betanya kepada ayahnya, mengapa dia tidak berani lagi bersabung melawan ayam lain, padahal dulu dia selalu berani dan menang ketika disabung. Beleewpun menyanggupi permintaan ayam putih tersebut. Selanjutnya Beleew berjalan dan menyeberangi sungai tempat pemandian. Sungai tempat pemandian juga memohon ditanyuakan kepada ayahnya mengapa dahulu dia didatangi semua ikan besar seperi ikan tapah, jelawat, baung dan patin, namun sekarang ikan seluang kecilpun tidak ada yang datang. Beleew pun mengiakan permohonan tersebut, lalu terus melanjutkan perjalanannya. Kemudian dia melewati sebatang pohon bangeris. Pohon bangerispun memohon Beleew bertanya kepada ayahnya, mengapa tidak ada lebah seekorpun yang mau hinggap pada dahan-dahannya, padahal dulu beratus-ratus sarang lebah berada di dahan-dahannya. Beleewpun menyanggupi permintaan pohon bangeris tersebut. Selanjutnya Beleew berjalan terus dan melewati tunggul pacet (lintah darat) yang tinggi. Merekapun memohon ditanyakan mengapa mereka berkumpul jadi satu dan tidak bermata, dan Beleewpun menyanggupi permintaan tersebut. Akhirnya setelah berjalan sekian lama sampailah Beleew di Simpang Delapan. Dia lalu berseru:” Kalau Saya ini anak dewa Langit, turunlah negkau Langkar Emas menjemputku.” Lalu Langkar Emas diturunkan dihadapannya. Belew lalu masuk dan ditarik ke atas. Sesampainya di tempat Perjadiq, ayahnya, maka Perjadiq bertanya :” Ada berita apa engkau ke sini Beleew?”. Jawab Beleew:” Ayahnda, say ke sini menghadap ayahnda, karena saya merasa badan saya lemah, sakit-sakitan dan merasa mengantuk setiap hari. Ingin bertanya apa sebabnya.” Kata perjadiq:” Engkau merasa lemah, sakit-sakitan dan mengantuk setiap hari, karena mereka melaksanakan upacara beliatn dengan maksud ingin membunuhmu, karena kelakuanmu jahat.” Jawab Beleew:”Saya tidak berani pulang ke sana kalau begitu.” Kata Perjadiq:” kamu harus pulang ke sana. Mereka tidak akan langsung membunuhmu, tetapi mereka akan memberimu sebuah gelas tanduk dan sebilah mandau bulu dan menyuruh engkau memilih yang mana diantara keduanya yang diterima. Pada saat mereka memberimu kedua benda tersebut kamu harus menjawab ‘ mohon ampun beribu maaf saya menolak mandau bulu karena mandau bulu menyebabkan warga kita berkurang, serta berkekurangan, pemandian jernih karena tidak ada orang mandi dan jalan menjadi sepi, maka saya menerima gleas tanduk, karena ini akan menyebabkan warga bertambah, menjadi makmur damai sejahtera dan pemandian ramai dan jalan banyak dilewati’. Maka mandau bulu akan jatuh dan mereka tidak akan mampu membunuhmu.”  Kemudian Beleew menyampaikan pesan-pesan pertanyaan dari semua benda dan hewan yang dilewati.
Jawab perjadiq:” Pacet (lintah darat) sengaja diciptakan tidak bermata, sebab kalau mereka punya mata, maka bsnyak manusia mati dikejar dan diisap darahnya. Tetapi engkau memberi tahu mereka, setelah engkau berada jauh di seberang sungai, takut mereka rebah menimpamu. Pohon banmgeris tidak lagi dihinggapi lebah karena tidak bersih. Oleh sebab itu ketika engkau sampai di sana engkau panjat dan bersihkan semua kerakap dan paku-pakuan yang ada di pohon dan cabang-cabangnya, niscaya lebah akan hinggap kembali seperti sediakala. Kemudian ketika engkau melewati sungai pemandian, pergilah ke muara dan bunuhlah seekor kura-kura besar yang menghalangi alur sungai tersebut, niscaya ikan-ikan besar akan sampai ke tempat pemandian seperti sediakala. Ayam jago putih yang ada di halaman lamin, engkau mandikan dan hembuskan matanya dengan asap rokok, maka keberaniannya untuk bersabung akan pulih kembali. Anjing pemburu hidungnya ditetes dengan ramuan selama 3 pagi berturut-turut, dan bawa berburu. Tentang siapa yang lebih tinggi kedudukannya antara batu pengasah dan mandau, maka yang lebih tinggi adalah batu pengasah. Batu pengasah kedudukannya diam ditempatnya, sedang mandau dibawa kesana-kemari untuk dibawa bekerja, demikian juga guci kecil lebih tinggi kedudukannya daripada labu tempat air, karena guci tenang ditempatnya sedang labu tempat air sering dibawa kesana kemari untuk bawa air.” Setelah beberapa hari di negeri kayangan, maka Beleew diturunkan lagi memakai Langkar Emas ke Simpang Delapan, lalu dia meneruskan perjalanan pulang ke Tanyukng Lahukng. Ketika melewati, tunggul lintah darat (pacet), maka mereka bertanya apakah ada jawaban dari perjadiq. Beleew meminta mereka bersabar menunggu sampai dia berada diseberang sungai. Setelah jauh diseberang suangai dia berteriak bahwa pacet diciptakan tidak bermata, karena kalau bermata, maka habis manusia mati dikejar dan diisap darahnya. Tunggul pacet marah dan roboh, sehingga pacet menyebar ke seluruh hutan rimba sampai sekarang. Kemudian Beleew melewati pohgon bengeris, lalu dia memanjat dan membuang segala macam kerakap dan paku-pakuan di atas pohon dan cabang. Maka pohon tersebut kemudian dihinggapi oleh ratusan sarang lebah seperti sediakala. Kemudian Beleew melanjutkan perjalanannya, maka sampailah dia di pemandian. Beleew kemudian pergi ke arah muara sungai tersebut, lalu membunuh kura-kura raksasa yang menghalangi alur sungai tersebut. Maka sungai pemandian tersebut segera didatangi oleh berbagai jenis ikan besar seperti jelawat, baung, tapaah dan patin dan ikan-ikan lainnya seperti zaman dulu. Kemudian Beleew berjalan mendaki menuju Lamin Tanyukng Lahukng lalu sesampainya di lamin dia melewati batu asah dan parang di pintu dan memberi tahu mereka bahwa kedudukan batu asah lebih tinggi dari kedudukan mandau dan setelah masuk ke dalam memberitahu bahwa guci kecil kedudukannya lebih tinggi dari labu tempat air. Kemudian dia menangkap ayam jago putih lalu memandikan dan menghembuskan asap rokok ke mata ayam tersebut. Maka ayam tersebut menjadi berani disabung saat acara tersebut dan dapat menang seperti sebelumnya. Demikian juga Beleew mencari ramuan dan meneteskan ramuan tersebut pada hidung anjing pemburu, sehingga penciuman anjing tersebut pulih kembali, lalu dia membawa anjing tersebut berburu dan berhasil mendapat babi yang besar.
Kemudian setelah sampai acara puncak upacara beliatn, Raja Aji menyruh orang menjemput Peteh Taman Jueh (Algojo yang tega hati) dan Tokaah Taman Tohokng (Algojo yang kejam) untuk membunuh Beleew. Lalu Beleew disuruh duduk di dalam balai tempat upacara. Lalu Peteh Taman Jueeh dan Tokaah Taman Tohokng menyorong mandau bulu dean gelas tanduk kepada Beleew dan bertanyaq mana yang disambut. Beleew menolak mandau bulu dengan alasan benda tersebut bisa menyebabkan manusia berkurang karena terbunuh, pemandian jernih dan jalan sepi. Dia menyambut gelas tanduk dengan alasan bahwa benda tersebut membawa perdamaian, kemakmuran dan kesejahteraan. Maka mandau bulu langsung terlepas dari tangan Peteeh Taman Jueeh dan Tokaah Taman Tohokng. Kemudian mereka menyorongkan ulang kedua benda tersebut sampai tiga kali dan jawaban Beleew tetap sama dan andau bulu terlepas. Maka Peteeh Taman Jueh dan Tokaah Taman Tohokng tidak mampu membunuh Beleew. Melihat kejadian itu, Raja Aji lalu mengomel:” Payah kalian semua tidak mampu membunuh Beleew. Bawa mandau bulu dan gelas tanduk kepada saya, saya yang akan menyorongkan”  Raja Aji lalu memegang dan menyorongkan kedua benda itu sambil berkata:” Saya sorong kepadamu Beleew, mandau bulu dan gelas tanduk ini, agar kamu terima mandau bulu ini.” Jawab Beleew:” Mohon maaf dan ampun, sya tolak mandau bulu karena itu membuat manusia berkurang karena kematian, pemandian menjadi jernih dan jalan menjadi sepi. Saya terima gelas tanduk, karena benda ini membawa perdamaian, kemakmuran dan kesejahteraan.” Kata Raja Aji :” Oh, memang tidak mampu juga kita membunuh anak dewa.” Kemudian upacara beliatn diubah tujuannya menjadi upacara pemulihan Beleew , sehingga Beleew berubah menjadi bertingkah laku baik sejak saat itu.
Jadi itulah asal usul keriatn kerataatn, biarpun Beleew pada zaman dulu bertingkah laku jahat, dan akan dibunuh, sudah dibawah ancaman senjata, tetapi dapat dipulihkan dan tabiatnya berubah menjadi baik, apalagi kami hanya terkena pengaruh jahat dari keriatn kerataatn tentu dapat pulih, sehingga kami sehat walafiat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar