Jadi saya menceriterakan lagi
tentang kejadian jaman lampau. Raja Aji bersahabat dengan Perjadiq. Kata
Perjadiq:”Begini sahabat, saya pulang ke negeri kayangan. Kalian waalaupun
paceklik hebat janganlah membuat ladang di Simpukng Putus, sebab itu tempat
Rempak manik meninggal.” “Ya,” kata Raja Aji. Pada mulanya Raja Aji tidak
mengerahkan rakyatnya untuk berladang di tempat tersebut karena hutan y ang
subur masih luas. Pada suatu saat lahan subur telah habis dibuat ladang, hanya
tinggal areal Simpukng Putus yang diperkirakan masih subur. Raja Aji memanggil
seluruh rakyatnya untukmelaksanakan pertemuan dan memutuskan membuat ladang di
areal Simpukng Putus. Kata Raja Aji:” Mulai besok pagi kita semua laki-laki
pergi ke Simpukng Putus untuk menebas ladang, sedang para perempuan
mempersiapkan makanan di lamin. Simpukng Putus pasti subur untuk menanam padi
dan tanaman lainnya, sehingga kita terhindar dari bahaya kelaparan.” Semua
rakyat menyetujui titah Raja Aji. Keesokan harinya mereka beramai-ramai pergi
menebas di areal Simpukng Putus. Perjadiq menoleh ke bawah dan terlihat olehnya
Raja Aji dan rakyatnya menebas Simpukng Putus untuk ladang, lalu dia membuang
sepah dari sirih dan menyruh jadi burung mentit (sejenis burung nyahuq yang
mengingatkan akan terjadinya hal-hal buruk). Maka burung mentit terbang ke sana
kemari di sekitar tebasan Raja Aji sambil berkicau. Melihat ada b urung mentit,
maka Raja Aji berkata :” Burung ini pasti utusan Perjadiq sahabatku. Sediakan
makanan dan beri makan utusan ini.” Anak buah Raja Aji menyiapkan makanan dan
memberi makan burung mentit tersebut sampai kenyang. Burung mentit lalu pulang dan melapor kepada
Perjadiq, bahwa mereka telah memberi dia makan dan terus menebas sampai sore.
Keesokan harinya Raja Aji dan rakyatnya melanjutkan pekerjaan membuat ladang
dan ketika perjadi melihat, maka dia membuang pelepah pisang menyuruh menjadi
ular bumui. Ular bumui lalu membelit tempat sirih Raja Aji. Melihat ada ular
bumi membelit tempat sirihnya, maka Raja Aji menyuruh anak buahnya memberi
makan. Setelah diberi makan sampai kenyang ular bumui tersebut kembali ke
kayangan tempat Perjadiq dan melapor bahwa dia tidak mampu mencegah Raja Aji
dan rakyatnya membuat ladang. Mereka memberinya makan dan terus menebas. Hari
berikutnya ketika Perjadiq melihat Raja Aji bersama rakyatnya terus menebas
membuat ladang, maka dia membuang simpai dan menyuruh jadi burung juruh. Burung
tersebut terbang ke sana kemari, berkicau dan mengetuk-ngetuk tempat sirih dan
batu asah. Melihat ada burung juruh, maka Raja Aji menyuruh anak buahnya
memberi makan utusan perjadiq tersebut sampai kenyang. Setelah kenyang, maka
burung juruh kembali ke kayangan tempat perjadiq dan melaporkan kegagalannya
mencegah Raja Aji dan rakyatnya membuat ladang. Keesokan harinya Perjadiq
membuang lenau dan menyuruh menjadi biawak. Maka biawak berjalan lewat di
hadapan Raja Aji dan berhenti di atas batu asah. Melihat ada biawak, maka Raja
Aji menyuruh memberi makan sampai kenyang utusan Perjadiq tersebut dan setelah
itu meneruskan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan keberadaannya. Biawak
tersebut kembali ke kayangan melaporkan kepada perjadiq bahwa dia gagal
mencegah Raaja Aji membuat ladang. Akhirnya tebasan ladang tersebut selesai,
dan Raja Aji lalu menebang pohon-pohon besar sampai selesai. Setelah selesai di
tebang, maka tumpukan daun dan kayu terkena panas terik selama 8 hari dan
menjadi kering. Maka Raja Aji membakar ladangnya. Beberapa hari s etelah ladang
dibakar, maka mereka lalu menanam padi. Padi tumbuh dengan suburnya dan juga
rambutan (siwo) di pinggir ladang berbunga. Raja Aji dan rakyatnya lalu
membangun rumah sepanjang 8 sambungan (8 olaakng) di tengah ladang. Perjadiq
kemudian turun dari dunia kayangan ke bawah lalu menjadi lebah. Lebah turun
lalu mengelilingi rumah tersebut selama 8 putaran lalu hinggap di sempayatn dan
sempak. Melihat ada gerombolan lebah, maka Raja Aji menyuruh anak buahnya
mengambil ayam dan babi beserta beras padi, beras ketan dan seluruh
perlengkapan. Lalu mereka memanggil dukun beliatn untuk melaksanakan upacara
memberi makan nyahuq. Maka dilakukanlah upacara memberi makan nyahuq di dalam
rumah di tengah ladang tersebut. Setelah semuanya masak dan upacara selesai,
maka Raja Aji mempersiapkan hidangan. Setelah hidangan siap, maka kata Raja
Aji:” Turunlah Sahabat, makanan sudah siap, silahkan makan.” Terlihat kumpulan
lebah bergerak-gerak, lalu turun ke bawah dan berubuah jadi sesosok manusia.
Kata Perjadiq:” Engkau keterlaluan sahabatku Raja Aji. Padahal saya sudah
larang kalian membuat ladang di Simpukng Putus ini, mengapa kalian tetap
melanggar juga. Kalau begitu dengan melihat ketekunan dan keuletan kalian, maka
saya memberkati agar kalian hidup sejahtera serba berkelimpahan.” Jawab Raja
Aji :” Kami terpaksa berladang di hutan larangan Simpukng Putus karena hutan
yang tanahnya subur di daerah lain sudah habis, sehingga kami diancam bahaya
kelaparan. Jadi kami mohon maaf telah melanggar larangan sahabatku Perjadiq.
Sahabatku berdua makanlah, dan sisa makanan silahkan di bawa pulang ke negeri
kayangan.” Setelah selesai makan, maka Perjadiq dan isterinya kembali ke dunia
kayangan. Sejak saat itu atas berkat dari perjadiq, Raja Aji hidup makmur
sejahteraserba berkecukupan. Panenan berhasil dan disimpan dalam delapan gudang
penyimpanan padi dan delapan gudang penyimpanan ketan terisi penuh, demikiasn
juga tanaman lain tumbuh dengan suburnya. Setelah hidup berkecukupan, maka Raja
Aji mengajak rakyatnya mengadakan pesta Belian Nuak dengan mengundang Pemimpin
dan warga dari kampung sekitar Tanyukng Lahukng. Maka dipanggillah para dukun
beliatn untuk melaksanakan upacara tersebut yang terdiri dari 8 dukun beliatn
laki-laki yang diketuai oleh Kakek Singkar Olo, dan 9 dukun beliatn perempuan
yang dikepalai oleh nenek Pantaak. Keramaian pesta pora di Tanyukng Lahukng
tersebut di dengar oleh Belew salah seorang putra Perjadiq. Maka katanya :”
Saya ingin bertamu ke Raja Aji ikut mereka berpesta pora melaksanakan upacara
Beliatn Nuaak.” Namun dilarang sama kedua orang tuanya karena tidak baik
bergaul dengan orang di bawah kayangan, karena mereka hidupnya berbeda dengan
orang kayangan, sehingga bisa mempunyai pengaruh buruk bagi orang kayangan.
Namun Belew berkeras minta diturunkan. Maka Belewditurunkan memakai Langkar
Emas menuju ke Simpang Delapan. Dari Simpang Delapan Belew meneruskan
perjalanannya menuju Tanyukng Lahukng dan langsung masuk dan duduk di balai
upacara. Melihat ada Beleew, maka Raja Aji berkata: “ Itu pertanda kita hidup
sejahtera, maka para dewa berkenan naik turun ke tempat kita upacara. Menarilah
engkau Beleew, anak dewa.” Maka Belewpun sangat gembira dan ikut menari diantara
banyak pemuda dan gadis sampai pagi.
Setelah sekian lama, maka upacara beliatn selesai. Raja Aji membayar upah para
pemeliatn dan mengantar mereka pulang. Kemudian mereka melaksanakan acara
mengurung diri di dalam lamin untuk pemali. Belewpun tetap tinggal di lamin
Tanyukng Lahukng ikut melaksanakan pemali.
Setelah selesai acara pemali,
maka Belew bercerita pada Raja Aji beserta anak cucu dan kaum kerabatnya. Kata Beleew:”
Begini Raja Aji, pertama-tama maksud kedatangan saya ke sini adalah menghadiri
upacara beliatn. Selain itu, saya bermaksud mencari ayam yang pernah terkena
kutil dan babi yang pernah terkena penyakit bengook.” Jawab anak cucu dan kaum
kerabat Raja Aji :” Kami ada ayam yang kena kutil dan babi yang kena penyakit
bengook, tetapi semuanya telah mati kemarin.” Kata Raja Aji:” Bodoh kalian
semua. Bukan hewan-hewan itu yang dia cari, tetapi seorang gadis untuk isteri.”
Maka warga Tanyukng lahukng yang
beradat menerima dan melayani Belew dengan baik dan yang tidak beradat
mengacuhkan kehadiran Beleew. Maka kata Raja Aji:” Baiklah kalau negkau
mempunyai niat beranak isteri di dunia bawah ini. Ada putriku bernama Ave untuk
isterimu.” Setelah tercapai kata sepakat, maka dilakukan upacara adat
pernikahan antara Beleew dan Ave (upacara pelulukng peruku) selama 8 hari 8
malam. Setelah berkeluarga selama 2-3 tahun, maka timbullah sifat tidak baik
Beleew. Dia mengambil hewan buruan yang kena jerat warga, demikian juga ikan
yang kena perangkap di sungai dan semua kelakuan yang jahat lainnya. Ketika
warga mengadu pada Raja Aji, maka Raja Aji marah dengan warga yang tersebut
karena dianggap iri hati dengan anak menantunya. Pada suatu sore Raja Aji
membawa seluruh warga rapat untuk menjelaskan bahwa dilarang memanen buah
rambutan (siwo) yang baru menguning di tengah ladang. Seluruh warga berjanji
akan mentaati larangan tersebut. Namun Beleew bangun pada subuh, mengasah
parang dan kemudian mempersiapkan kiang lalu berangkat ke ladang. Sesampainya
di ladang Beleew lalu memanjat pohon rambutan (siwo) yang berada di tengah
ladang tersebut lalu memotong seluruh cabang yang berbuah, kemudian
mengumpulkan buah tersebut ke dalam kiangnya sampai penuh. Ketika sore hari dia
pulang membawa buah tersebut dan menaruh buah tersebut di tengah lamin untuk
dimakan warga. Maka Raja Aji memuji menantunya dan mencemooh warga:” Menantu
saya ini baik, bawa buah untuk kalian semua. Mengapa kalian menceritakan
tentang kejelekan dia selama ini.”
Keesokan harinya Raja Aji pergi
ke ladang, lalu dilihatnya pohon rambutan (siwo), cabang-cabangnya sudah habis
di potong dan jatuh terkena tanaman padi. Raja Aji kemudian pulang ke lamin
dengan penuh amarah dan memanggil semua warga berkumpul, lalu betanya siapa
diantara mereka pergi ke ladang dan memotong dahan rambutan (siwo) tersebut
tanpa seijin dia. Sebagian warga mengatakan tidak mengetahui siapa yang memanen
rambutan tersebut. Lalu beberapa warga melapor bahwa Beleew subuh kemarin
berangkat ke ladang dan sorenya membawa buah rambutan (siwo) penuh dalam
kiangnya dan ditaruh ditengah lamin. Maka Raja Aji sangat marah dengan Beleew
yang telah melanggar larangannya. Maka dia mengajak warga berkumpul
melaksanakan upacara beliatn dengan tujuan untuk membunuh Beleew sebagai
korban. Mereka memanggil 8 dukun belian laki-laki yang diketuai Kakek Singkaar
Olo dan 9 dukun beliatn perempuan yang diketuai nenek Pantaak. Sejak dimulainya
upacara beliatn, Beleew merasa tubuhnya tidak enak dan tidak bertenaga
seakan-akan mengantuk setiap saat. Lalu kata Beleew pada Ave dan Raja Aji:”
Saya mau menghadap ayah di dunia kayangan, karena saya merasa sakit.” Jawab
Raja Aji:” Baiklah, tetapi nengkau jangan lama di sana, karena upacara beliatn
sebentar lagi mencapai puncaknya.”
“Ya, saya tidak lama di sana,”
jawab Beleew. Ketika Beleew berjalan melewati sebuah labu tempat air dan sebuah
guci kecil, keduanya meminta Beleew bertanya kepada Perjadiq, ayahnya siapa
diantara keduanya yang lebih tinggi kedudukannya. “Ya, nanti saya tanyakan,”
jawab Beleew. Lalu ketika mendekati pintu, batu pengasah dan parang juga
memohon Beleew bertanya kepada ayahnya siapa diantara mereka yang lebih tinggi
kedudukannya. Kemudian ketika melewati pelataran, seekor anjing memohon Beleew
bertanya kepada ayahnya kenapa dia tidak bisa menyalak dan berburu babi lagi
seperti dulu. Beleew juga menyanggupi untuk bertanya kepada ayahnya. Ia
kemudian menuruni tangga dan sampai di halaman lamin. Seekor ayam jago berwarna
putih memohon Beleew betanya kepada ayahnya, mengapa dia tidak berani lagi
bersabung melawan ayam lain, padahal dulu dia selalu berani dan menang ketika
disabung. Beleewpun menyanggupi permintaan ayam putih tersebut. Selanjutnya
Beleew berjalan dan menyeberangi sungai tempat pemandian. Sungai tempat
pemandian juga memohon ditanyuakan kepada ayahnya mengapa dahulu dia didatangi
semua ikan besar seperi ikan tapah, jelawat, baung dan patin, namun sekarang
ikan seluang kecilpun tidak ada yang datang. Beleew pun mengiakan permohonan
tersebut, lalu terus melanjutkan perjalanannya. Kemudian dia melewati sebatang
pohon bangeris. Pohon bangerispun memohon Beleew bertanya kepada ayahnya,
mengapa tidak ada lebah seekorpun yang mau hinggap pada dahan-dahannya, padahal
dulu beratus-ratus sarang lebah berada di dahan-dahannya. Beleewpun menyanggupi
permintaan pohon bangeris tersebut. Selanjutnya Beleew berjalan terus dan
melewati tunggul pacet (lintah darat) yang tinggi. Merekapun memohon ditanyakan
mengapa mereka berkumpul jadi satu dan tidak bermata, dan Beleewpun menyanggupi
permintaan tersebut. Akhirnya setelah berjalan sekian lama sampailah Beleew di
Simpang Delapan. Dia lalu berseru:” Kalau Saya ini anak dewa Langit, turunlah
negkau Langkar Emas menjemputku.” Lalu Langkar Emas diturunkan dihadapannya.
Belew lalu masuk dan ditarik ke atas. Sesampainya di tempat Perjadiq, ayahnya,
maka Perjadiq bertanya :” Ada berita apa engkau ke sini Beleew?”. Jawab
Beleew:” Ayahnda, say ke sini menghadap ayahnda, karena saya merasa badan saya
lemah, sakit-sakitan dan merasa mengantuk setiap hari. Ingin bertanya apa
sebabnya.” Kata perjadiq:” Engkau merasa lemah, sakit-sakitan dan mengantuk
setiap hari, karena mereka melaksanakan upacara beliatn dengan maksud ingin
membunuhmu, karena kelakuanmu jahat.” Jawab Beleew:”Saya tidak berani pulang ke
sana kalau begitu.” Kata Perjadiq:” kamu harus pulang ke sana. Mereka tidak
akan langsung membunuhmu, tetapi mereka akan memberimu sebuah gelas tanduk dan
sebilah mandau bulu dan menyuruh engkau memilih yang mana diantara keduanya
yang diterima. Pada saat mereka memberimu kedua benda tersebut kamu harus
menjawab ‘ mohon ampun beribu maaf saya menolak mandau bulu karena mandau bulu
menyebabkan warga kita berkurang, serta berkekurangan, pemandian jernih karena
tidak ada orang mandi dan jalan menjadi sepi, maka saya menerima gleas tanduk,
karena ini akan menyebabkan warga bertambah, menjadi makmur damai sejahtera dan
pemandian ramai dan jalan banyak dilewati’. Maka mandau bulu akan jatuh dan
mereka tidak akan mampu membunuhmu.”
Kemudian Beleew menyampaikan pesan-pesan pertanyaan dari semua benda dan
hewan yang dilewati.
Jawab perjadiq:” Pacet (lintah
darat) sengaja diciptakan tidak bermata, sebab kalau mereka punya mata, maka
bsnyak manusia mati dikejar dan diisap darahnya. Tetapi engkau memberi tahu
mereka, setelah engkau berada jauh di seberang sungai, takut mereka rebah
menimpamu. Pohon banmgeris tidak lagi dihinggapi lebah karena tidak bersih.
Oleh sebab itu ketika engkau sampai di sana engkau panjat dan bersihkan semua
kerakap dan paku-pakuan yang ada di pohon dan cabang-cabangnya, niscaya lebah
akan hinggap kembali seperti sediakala. Kemudian ketika engkau melewati sungai pemandian,
pergilah ke muara dan bunuhlah seekor kura-kura besar yang menghalangi alur
sungai tersebut, niscaya ikan-ikan besar akan sampai ke tempat pemandian
seperti sediakala. Ayam jago putih yang ada di halaman lamin, engkau mandikan
dan hembuskan matanya dengan asap rokok, maka keberaniannya untuk bersabung
akan pulih kembali. Anjing pemburu hidungnya ditetes dengan ramuan selama 3
pagi berturut-turut, dan bawa berburu. Tentang siapa yang lebih tinggi
kedudukannya antara batu pengasah dan mandau, maka yang lebih tinggi adalah
batu pengasah. Batu pengasah kedudukannya diam ditempatnya, sedang mandau
dibawa kesana-kemari untuk dibawa bekerja, demikian juga guci kecil lebih
tinggi kedudukannya daripada labu tempat air, karena guci tenang ditempatnya
sedang labu tempat air sering dibawa kesana kemari untuk bawa air.” Setelah
beberapa hari di negeri kayangan, maka Beleew diturunkan lagi memakai Langkar
Emas ke Simpang Delapan, lalu dia meneruskan perjalanan pulang ke Tanyukng
Lahukng. Ketika melewati, tunggul lintah darat (pacet), maka mereka bertanya
apakah ada jawaban dari perjadiq. Beleew meminta mereka bersabar menunggu sampai
dia berada diseberang sungai. Setelah jauh diseberang suangai dia berteriak
bahwa pacet diciptakan tidak bermata, karena kalau bermata, maka habis manusia
mati dikejar dan diisap darahnya. Tunggul pacet marah dan roboh, sehingga pacet
menyebar ke seluruh hutan rimba sampai sekarang. Kemudian Beleew melewati
pohgon bengeris, lalu dia memanjat dan membuang segala macam kerakap dan
paku-pakuan di atas pohon dan cabang. Maka pohon tersebut kemudian dihinggapi
oleh ratusan sarang lebah seperti sediakala. Kemudian Beleew melanjutkan
perjalanannya, maka sampailah dia di pemandian. Beleew kemudian pergi ke arah
muara sungai tersebut, lalu membunuh kura-kura raksasa yang menghalangi alur
sungai tersebut. Maka sungai pemandian tersebut segera didatangi oleh berbagai
jenis ikan besar seperti jelawat, baung, tapaah dan patin dan ikan-ikan lainnya
seperti zaman dulu. Kemudian Beleew berjalan mendaki menuju Lamin Tanyukng
Lahukng lalu sesampainya di lamin dia melewati batu asah dan parang di pintu
dan memberi tahu mereka bahwa kedudukan batu asah lebih tinggi dari kedudukan
mandau dan setelah masuk ke dalam memberitahu bahwa guci kecil kedudukannya
lebih tinggi dari labu tempat air. Kemudian dia menangkap ayam jago putih lalu
memandikan dan menghembuskan asap rokok ke mata ayam tersebut. Maka ayam
tersebut menjadi berani disabung saat acara tersebut dan dapat menang seperti
sebelumnya. Demikian juga Beleew mencari ramuan dan meneteskan ramuan tersebut
pada hidung anjing pemburu, sehingga penciuman anjing tersebut pulih kembali,
lalu dia membawa anjing tersebut berburu dan berhasil mendapat babi yang besar.
Kemudian setelah sampai acara
puncak upacara beliatn, Raja Aji menyruh orang menjemput Peteh Taman Jueh
(Algojo yang tega hati) dan Tokaah Taman Tohokng (Algojo yang kejam) untuk
membunuh Beleew. Lalu Beleew disuruh duduk di dalam balai tempat upacara. Lalu
Peteh Taman Jueeh dan Tokaah Taman Tohokng menyorong mandau bulu dean gelas
tanduk kepada Beleew dan bertanyaq mana yang disambut. Beleew menolak mandau
bulu dengan alasan benda tersebut bisa menyebabkan manusia berkurang karena
terbunuh, pemandian jernih dan jalan sepi. Dia menyambut gelas tanduk dengan
alasan bahwa benda tersebut membawa perdamaian, kemakmuran dan kesejahteraan.
Maka mandau bulu langsung terlepas dari tangan Peteeh Taman Jueeh dan Tokaah
Taman Tohokng. Kemudian mereka menyorongkan ulang kedua benda tersebut sampai
tiga kali dan jawaban Beleew tetap sama dan andau bulu terlepas. Maka Peteeh
Taman Jueh dan Tokaah Taman Tohokng tidak mampu membunuh Beleew. Melihat
kejadian itu, Raja Aji lalu mengomel:” Payah kalian semua tidak mampu membunuh
Beleew. Bawa mandau bulu dan gelas tanduk kepada saya, saya yang akan
menyorongkan” Raja Aji lalu memegang dan
menyorongkan kedua benda itu sambil berkata:” Saya sorong kepadamu Beleew,
mandau bulu dan gelas tanduk ini, agar kamu terima mandau bulu ini.” Jawab
Beleew:” Mohon maaf dan ampun, sya tolak mandau bulu karena itu membuat manusia
berkurang karena kematian, pemandian menjadi jernih dan jalan menjadi sepi. Saya
terima gelas tanduk, karena benda ini membawa perdamaian, kemakmuran dan
kesejahteraan.” Kata Raja Aji :” Oh, memang tidak mampu juga kita membunuh anak
dewa.” Kemudian upacara beliatn diubah tujuannya menjadi upacara pemulihan
Beleew , sehingga Beleew berubah menjadi bertingkah laku baik sejak saat itu.
Jadi itulah asal usul keriatn
kerataatn, biarpun Beleew pada zaman dulu bertingkah laku jahat, dan akan
dibunuh, sudah dibawah ancaman senjata, tetapi dapat dipulihkan dan tabiatnya
berubah menjadi baik, apalagi kami hanya terkena pengaruh jahat dari keriatn
kerataatn tentu dapat pulih, sehingga kami sehat walafiat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar